Hai lagi para pembaca yang terkasih dan terhormat :)
Kali ini memang bukan secara langsung ajaran dari Mr Eddy, tetapi merupakan sebuah rangkuman/makalah yang hamba kumpulkan dari berbagai sumber, dan melekat menjadi sebuah teori panduan hidup. Segala macam masukan diterima dengan baik, jadi silahkan reach out ya!
Menurut hamba pribadi teori ini sangatlah sederhana saja, kalau komplikasinya silahkan direnungkan sendiri ya ^^
Saya terilham bahwa kehidupan ini setidaknya terdiri dari empat tingkatan (levels):
Level 0: Sinetron. Dimana ketika kita hidup dengan kasat mata saja, tanpa kesadaran. Terikat dan melekat kepada drama-drama kehidupan sehari-hari, dan malahan menimbulkan karma.
Level 1: Adalah Penciptaan atau Manifestasi. Di tingkatan ini, sang orang berubah menjadi calon manusia, mulai bisa membedakan sinetron dan narasi di belakangnya. Calon manusia tersebut juga mendapat anugerah penciptaan/materialisasi, baik di alam lahir(materi) maupun alam batin(implisit), baik bagi dirinya (awalnya) maupun bagi orang lain (akhirnya). Proses penciptaan ini juga merupakan bagian dari "tugas" yang harus dijalankan, dan caranya bermacam-macam, dari hidup sehari-hari (tetapi sadar) sampai memakai mantra, visualisasi, doa, afirmasi, dan sebagainya.
Level 2: Adalah Penerimaan atau Acceptance. Di tingkatan ini, kesadaran itu membuat seorang calon manusia menjadi manusia sejati, dimana terjadi penerimaan apa adanya dan kepasrahan yang sesuai dan pada tempatnya. Sejalan dengan waktu, manusia tersebut mampu menerima apa adanya: penerimaan adalah bersyukur, senyum dan memberi (makanya ada yang bilang menerima adalah memberi.. hahaha) dan disini terdapat kenyamanan. Sang manusia bebas dari kemelekatan terhadap hasil dari penciptaannya di level 1 berkat kesadarannya, dan mampu menerima dan mencintai apa adanya.
Level 3: Adalah Kebersatuan. Ketika sang manusia mencapai tahap menerima apa adanya, dan menyadari nature-nya yang sesungguhnya (bahwa keTuhanan sesungguhnya ada di dalam dirinya, dan dengan begitu, maka sesungguhnya ia adalah Tuhan) serta mencapai kepasrahan dengan ikhlas, maka di saat ini adalah saat yang terdekat baginya untuk tidak dilahirkan kembali di dunia ini. (Sebab dia sudah paham, sudah lulus kuliah, ya kalau disuruh sekolah lagi kan tidak pantas..) Disinilah terdapat manunggaling kawula gusti, dimana ego bersatu dengan kebaikan, tidak ada lagi putih dan hitam, baik dan jahat..
Adapun rumus-rumus matematika sebagai berikut:
- 0 + 0 = 0. Apabila kita membulat, terikat dengan sinetron dan drama, maka kita hanya akan berputar disitu saja dan tidak habis-habis karma kita. Maka lingkaran tersebut biarlah dipatahkan dengan kesadaran dan kebijaksanaan..
- 2 = 1 + 1. Penerimaan itu terdiri dari penciptaan-penciptaan. Ketika seorang calon manusia sudah rajin mencipta dan sukses, dan ia rajin merenung, maka ia akan sadar kalau materi (fisik) sesungguhnya ialah hampa, maka ia akan melepas dan menerima. Dengan belajar melepas dan menerima, hal-hal materi malah akan melekat juga; jadi sesungguhnya dengan belajar menciptakan kita belajar untuk menerima (hasil ciptaan kita), dan dengan menerima kita membantu proses penciptaan kita. Harmonis, terdiri dari satu sama lain. Dan tidak bisa dilongkap-longkapi.
- 1 + 2 = 3. Untuk mencapai kebersatuan, atau manunggaling kawula gusti, tidak hanya menerima atau pasrah saja, tetapi juga harus menuntaskan tugas/kewajiban kita di dunia ini. Bagaimana cara menuntaskannya? Yaitu dengan melakukan penciptaan bagi diri kita dan orang lain. Berkarya. Apabila sudah tuntas tugas kita, sudah habis karma kita dan malah membawa darma, serta dilakukan dengan tulus dan ikhlas, maka menjadilah hak kita (apabila disertai kepasrahan) untuk mencapai kebersatuan/kemanunggalan. Oleh sebab itu pentingnya untuk menciptakan, menjalankan tugas sehari-hari, untuk membuat hidup kita nyaman, sebab disitu terdapat realita yang jauh lebih berharga daripada teori yang tidak dipraktekkan.
Kemudian, terdapat juga implikasi dari dinamika kehidupan yang berarti kita bisa hidup dan berpindah-pindah dari satu tingkatan ke tingkatan lainnya. Banyak sekali yang saya hormati sering berpura-pura hidup sebagai level 0, supaya dapat diterima oleh orang-orang disekitarnya, supaya bisa membantu orang-orang tersebut. (sebab kalau tidak diterima maka diberi bantuan pun akan ditolak..) Padahal sesungguhnya sudah mampu mempertahankan kebersatuan alias sudah hidup di level 3. Selain itu nampaknya juga masih banyak tingkatan-tingkatan selanjutnya, atau juga tingkatan diantara tingkatan (masih dapat diperulas/diperdetil lagi). Tapi hak ilmu hamba sampai segini dulu saja ya :) semoga berguna dan bermanfaat!
Salam Rahayu,
Blog ini didedikasikan kepada Edhaka alias Mr BJ Eddy Soetyono, grand master dan guru besar dalam ilmu kehidupan.
Sunday, June 14, 2015
Tuesday, May 26, 2015
Kopi Darat
Salam rahayu, para pembaca yang terkasih..
Pertama-tama ingin bersyukur dulu karena hari Sabtu lalu Murid Edhaka ini ikutan KKAS, mendengar sharing Kak Wisnu dan Kak Anne, serta belajar banyak dari kakak-kakak seperguruan lainnya. Terimakasih :) Kenapa kopi darat? Soalnya ceritanya kan soulnya sudah berjumpa dulu, baru dipertemukan secara lahir/casing melalui KKAS. Waduh, bersyukur sekali warisan Mr Eddy masih hidup sampai sekarang, dan para muridnya masih tetap saling mendukung dan memberi energi positif. Terimakasih lagi :)
Untuk afirmasi seberapa pentingnya saling share (yang banyak terjadi di KKAS kemarin), kata-kata Mr Eddy adalah: "Sharing dalam keadaan interaktif sosial itu sangat unique sekali. Sebab
dengan sering-sering sharing-sharing begini, kesadaran kita makin bertambah.
Dan hanyalah kesadaran kita itu yang mampu membuat kita benar-benar bahagia."
Waktu itu Beliau sedang membahas materi di KKAS juga, makanya tidak heran ya Beliau selalu minta setiap anggota untuk share setiap selesai meditasi. Saya juga pernah diajarkan, kalau katanya kita share, dan memberi nasihat kepada orang lain, sesungguhnya nasihat/saran yang kita keluarkan adalah cerminan dari nasihat/pesan-pesan yang kita sedang perlukan. Waah.. Gak akan saya pelit sharing lagi deh.. hahaha. Tapi, mohon diingat indah pada waktunya juga ya, hehe.
Selain itu, sharing-sharing kakak-kakak dari KKAS mengingatkan saya terhadap nasihat Mr Eddy tentang sikap manusia moderen:
1. Manusia moderen itu selalu "Fine as always." Kata Beliau: "Jadi seseorang harus berani, coba challenge aja konsekuensinya. Any problem
is a prospect. If we see a problem as a burden, we are the loser! Say to
yourself: “No problem at all, I am aware! I am the risk taker, I am a
challenger!” Percuma kan, kalau kita diciptakan Tuhan sebagai wakil Beliau yang paling
hebat, tetapi ga mau tahu dan ga mau sadar, malah takut-takut. If you realize how powerful your mind is, lo ga
bakal ngomong (atau bahkan berpikir) sembarangan lagi. Tenang aja, though. Alam
semesta selalu empower, initiate, and privilege. The point is: Be yourself and
everything will be fine. Don’t jump to conclusions. No judgement. Ga usah
muluk2. Suruh pikiran: eh lu pikiran, diem aja! Tidak perlu berpikir teralu
banyak."
Seperti yang di-share oleh Mas Wisnu yang selalu kembali ke prinsip pribadinya disaat menemukan rintangan, atau seperti Kak Anne dan kakak-kakak yang lainnya yang selalu go with the flow dan PeDe saat ada hambatan, dan meyakini kalau HS akan membukakan jalan. Karena, seperti yang sudah di share juga, kalau kita takut, atau kejepit dan memaksa, malah jadi tidak tepat, dan hasilnya tidak akan berbuah. Kalau saya pribadi dulu sering merasa kurang faith, saran Mr Eddy cuma mindsetnya saja dirubah, "tinggal percaya saja, gampang kan?". Maka murid Edhaka ini sekarang berusaha tersenyum, bersyukur, dan mewujudkan saja... hehehe
2. Manusia moderen itu ingat untuk membuat nyaman, dan menikmati hidup. Ini kata-kata Mr Eddy: "Ketika Anda sadar, Anda akan mampu menikmati yang tidak enak sekalipun, dan
merubah yang tidak enak menjadi enak, dan yang enak menjadi enak sekali. Suatu
hari, ketika itu terjadi, Anda baru bisa merasakan hidup yang sesungguhnya.
Anda hanya perlu split second untuk merubahnya.Yang penting, yang pokok, adalah pendewasaan dimensi dan pematangan jiwa
kita. When there is maturity, there is no problem at all. There is so many
problem but I don’t see it at all. Kita sendirilah yang berkewajiban untuk
menyempurnakan kesadaran kita, inilah yang kita panggil kewajiban asasi
manusia. Mind kita itu manual, namun soul kita itu automatic. Pet pet pet dan besss,
terjadilah kehendak soul (HS) mu itu. Kesadaran mampu menyempurnakan kehidupan,
dan kesadaran adalah segala-galanya."
Kak Anne banyak sekali berdisuksi mengenai kenyamanan (dengan contohnya yang merubah rambut panjang menjadi rambut pendek ya.. hehehe) Alangkah indahnya hidup jika kita berani membuat segala sesuatu menjadi nyaman. Hal yang tidak enak kita rubah menjadi yang enak, dan yang enak kita jadikan enak sekali. Kalau boleh saya terjemahkan sedikit, kata kuncinya adalah sadar, atau kesadaran. Sebab, dengan sadar, kita ingat, di dalam keadaan apapun, walau bagaimanapun, dengan siapapun, dan kapanpun, kita selalu punya pilihan dan kita adalah bebas sebebas-bebasnya. Kita punya kekuatan, kemampuan, dan kapabilitas untuk merubah hidup kita dan membuatnya lebih nyaman. Mulai saja dari hal-hal kecil, kalau Kak Anne rambutnya, saya mungkin merubah pakaian yang saya pakai, biar agak longgar-longgar sedikit yang penting nyaman ya.. hehehe. Saya percaya, ketika kita membuat dunia kita lebih nyaman, kita lebih bahagia, dan dunia orang yang di sekitarpun akan terasa lebih nyaman. Kalau setiap orang berpikiran dan melakukan hal yang sama, jadi surga deh. hehehehe. Asal nyamannya tidak membuat orang lain merasa nggak nyaman ya.. hahaha..
Oh juga, dengan kesadaran, kita jadi sadar kalau masalah itu sebenarnya hanyalah ilusi yang kita ciptakan (atau diciptakan oleh masyarakat, supaya ada yang namanya sinetron). Tapi biasanya saya suka lupa aja. Ketika melupakannya, masalah itu nampak banyak sebanyak-banyaknya, besar sebesar-besarnya, tidak habis-habis. Tetapi, dengan mengingatnya, segunung masalah pun sirna, dan meminjam kata-kata Mr Eddy lagi, dari gudang masalah, kita mampu untuk berubah menjadi pemberi solusi masalah.
Berteka-teki yuk, saya menulis "melupakannya" dan "mengingatnya", "nya" dalam kalimat tersebut merujuk kepada hal apa ya? Hehehe...
Sekian, terimakasih! Semoga KKAS boleh berlangsung terus ya.. Terimakasih kepada panitia yang sudah bekerja keras dan para peserta-peserta yang sudah datang dan sharing.. :)
Salam Rahayu,
Tuesday, April 28, 2015
Narsis
Haii para pembaca yang kuhormati dan kucintai,
Ini mungkin kesannya memang kurang baik, tetapi mau bergosip sedikit tidak? Pak Eddy pernah cerita lho, ke saya, apa "kelemahan" Beliau. Penasaran?
Kata Beliau, kelemahan terbesarnya adalah "narsis". Kata Pak Eddy, para malaikat pun terkadang sampai geleng-geleng kepala sendiri melihat betapa narsisnya Mr Eddy. Tetapi Beliau kemudian menjelaskan sambil tersenyum manis kalau sebuah "kelemahan" itu memang diperlukan di kehidupan kita ini. Toh namanya juga manusia, bukan dewa, kan. Pura-pura lemah aja gitu, pura-pura salah, yang penting terkendali dengan baik. Jangan kebablasan! Begitulah kira-kira yang diutarakan Mr Eddy.
Mr Eddy pun menjelaskan mengenai narsis:
"Narsis itu mencintai diri sendiri. Karena ini ciptaan Tuhan. Kalau Aku
mencintai Tuhan itu melalui mencintai diri sendiri, mencintai ciptaannya.
Setelah aku mencintai diri sendiri, aku layak dicintai dan mencintai. Aku mencintai diriku sendiri karena aku
adalah ciptaanNya. Baru bisa aku dicintai, mencintai, dan sehingga akhirnya
saling mutual.
Mencintai diri sendiri
itu di keep to yourself saja, tidak perlu di-expose kepada siapapun. Santai
saja men. Kemudian, proses itu adalah sebuah proses yang sangat sederhana.
Misalnya, bisa dicoba saat kamu mandi. Tubuh itu terdiri dari 7 lapis: Rambut,
kulit, daging, urat-syaraf, darah, tulang, dan sumsum. Coba saja, ga ada satu bagian. Semuanya pasti berantakan. Kalau komplit
tujuh-tujuhnya, bisa diseret kemana-mana. Siapa yang seret? Otak. Nah, terus
waktu kamu mandi, disebut: “Aku terimakasih, kamu sudah mau aku ajak
kemana-mana.. sudah rela aku seret-seret.. aku juga mohon maaf, kayaknya ga
pernah kasihan sama kamu. Setelah aku sadar, aku jadi ilfeel deh.”
“yuk, mari, kita mandi bareng biar segar. Pakai sabun yang wangi..”
Itulah mencintai diri. Kamu kembangkan sendiri, apa yang perlu lagi.
Petunjuk: Aktifitas-aktifitas yang diperlukan untuk pemeliharaan badanmu
terlebih lanjut seperti makan, tidur, dan sebagainya. Sadarilah bahwa kamu
melakukan semua itu, meluangkan waktu yang berharga itu, tidak lain untuk
dirimu.."
Hihihi. Ternyata narsis pun dalam juga ya hikmahnya. Semenjak diajari ini oleh Mr Eddy, murid Edhaka ini tidak pernah mandi tanpa mendoakan badanku ini. Doa ini juga baik supaya kita bisa mandi dengan lebih mindful. Sebab, kata Mr Eddy, tubuhmu adalah buku tertua yang ditulis oleh Tuhan sendiri, tubuhmu adalah cangkang superior yang memiliki energi dan potensi yang dasyhat sekali. Masa kita ngga jaga baik-baik? Tapi yah, kalau boleh jujur, murid Edhaka ini juga sering lupa menjaga baik-baik dirinya, hampir tiap hari diseret-seret, kurang olahraga, tidur ga teratur, makan ga sehat, dsb dll hahaha. Yaah... Jadi kepingin menjadi narsis juga ya rasanya..
Selain itu, saya pernah menulis soal naikan (terapi melihat kedalam) di blog post saya yang sebelumnya. Ternyata, terapi naikan itu juga bisa, dan baik untuk kita aplikasikan ke anggota tubuh kita. Misalnya, kita fokus ke satu bagian, kaki: Oh kaki, apakah hal baik yang pernah engkau perbuat untuk saya, apakah saya pernah merepotkan engkau, dan apakah hal baik yang pernah saya perbuat untuk engkau. Menjawabnya sederhana saja: Kaki, saya bersyukur karena engkau selalu membawa saya kemana-mana dan memberikan saya kebebasan. Saya mohon maaf karena waktu itu saya bawa kamu jalan-jalan di Kyoto dan Nara, sampai pegel-pegel pun masih saya seret-seret. Saya akan jaga kamu baik-baik, dan beli sepatu yang alasnya nyaman untuk kamu. Saya mencintaimu, kaki.
Kalau kata Rhonda Byrne, pengarang the Secret, setiap kali kita bersyukur akan sesuatu, kita akan mendapatkan berlipat ganda. Itulah kekuatan pikiran, apapun yang kita pikirkan maka kita akan dapatkan. Jadinya, dengan kita belajar menjadi narsis, belajar mencintai diri kita sendiri, belajar mensyukuri kesehatan kita, ternyata kita akan diberi kesehatan dan kemudaan (forever young and fit) yang semua orang dambakan. Hehehe. Kalau pabrik obat bangkrut jangan salahin murid Edhaka ini ya hehehe.
Wah Mr Eddy, punya kelemahan kok malah yang bisa buat ngajarin para murid-murid ya? Hehehe.
Salam Rahayu,
Sunday, March 29, 2015
Kekuatan Pikiran
Para pembaca yang terhormat,
Hari ini pendek aja kali ya, hehehe. Soalnya cuma cerita pengalaman peribadi saja (sekalian nyolong-nyolong curhat, gitu.. hehehe). Kata mutiara hari ini dua kata saja yah: Kekuatan pikiran.
Kata Pak Eddy, begitu kita sadar akan seberapa kuatnya pikiran kita ini, kita ngga akan ngomong sembarangan, bahkan ga akan berani mikir sembarangan lagi. Seperti biasa, pada saat Beliau bersabda, murid Edhaka yang ini merasa mengerti. Ternyata tidak juga, karena begitu dijalani kehidupan ini barulah murid Edhaka ini perlahan meresapi hikmah daripada kekuatan pikiran.
Kita semua diciptakan dengan kemampuan untuk merubah realitas dan untuk menciptakan. Terkadang pikiran itu memang bukan milik kita, tetapi intuisiku adalah kita harus belajar memilikinya, dan bertanggung jawab atas pikiran tersebut. Karena kalau tidak, bisa gawat jadinya. Ambil contoh, waktu saya berantem sama pacar saya, pikiran negatif yang saya akumulasikan terhadap dia sungguh kelewat parah, sampai sampai akhirnya kita harus mengakhiri hubungan kita ini.
Tetapi, di dalam kegelapan tersebut, arah sebaliknya juga sama kuatnya. Perlahan-lahan saya berdoa, meminta kesempatan untuk meminta maaf dan memperbaiki persahabatan kita. Di hari terakhir kita berjumpa, sebelum dia balik ke Amerika, dia bilang dia ingin makan sushi. Saya pelan-pelan berdoa ke HS (Higher Self) saya: "Tolong bantuin dong, HS, carikan tempat makan sushi yang enak, yang nyaman supaya kita bisa ngobrol dengan santai dan baik-baik." Saat itu tengah turun hujan, dan kita sedang mengeksplorasi kota baru. Saya sudah hendak menyerah saja, sebab tidak lama lagi, dia harus naik kereta untuk kembali ke bandara.
Saat saya menyerah dan memutuskan untuk berjalan kembali ke hotel, tiba-tiba muncul sebuah restoran sushi. Saya berbelok dan mengajaknya untuk makan disana. Saya bersyukur, sebab semuanya berjalan dengan lancar; kita duduk dan menikmati makanan serta percakapan kita disana. Dia pun mampu mengutarakan semua kekesalan dan kekecewaannya terhadap saya, sehingga akhirnya saya mampu meminta maaf dengan tulus, dan berpisah dengan baik-baik.
Sejak saat itu saya tidak berani lagi meremehkan kekuatan pikiran ini. Saya berusaha untuk rajin-rajin menangkap pikiran yang kurang baik, dan memohon ampun kepada HS saya. Mohon ampun, tolong pikiran yang tadi jangan dijadiin, kasian kalau jadi beneran.. hahaha. Memang seram, tetapi indah, kekuatan pikiran kita (:
Salam rahayu,
Hari ini pendek aja kali ya, hehehe. Soalnya cuma cerita pengalaman peribadi saja (sekalian nyolong-nyolong curhat, gitu.. hehehe). Kata mutiara hari ini dua kata saja yah: Kekuatan pikiran.
Kata Pak Eddy, begitu kita sadar akan seberapa kuatnya pikiran kita ini, kita ngga akan ngomong sembarangan, bahkan ga akan berani mikir sembarangan lagi. Seperti biasa, pada saat Beliau bersabda, murid Edhaka yang ini merasa mengerti. Ternyata tidak juga, karena begitu dijalani kehidupan ini barulah murid Edhaka ini perlahan meresapi hikmah daripada kekuatan pikiran.
Kita semua diciptakan dengan kemampuan untuk merubah realitas dan untuk menciptakan. Terkadang pikiran itu memang bukan milik kita, tetapi intuisiku adalah kita harus belajar memilikinya, dan bertanggung jawab atas pikiran tersebut. Karena kalau tidak, bisa gawat jadinya. Ambil contoh, waktu saya berantem sama pacar saya, pikiran negatif yang saya akumulasikan terhadap dia sungguh kelewat parah, sampai sampai akhirnya kita harus mengakhiri hubungan kita ini.
Tetapi, di dalam kegelapan tersebut, arah sebaliknya juga sama kuatnya. Perlahan-lahan saya berdoa, meminta kesempatan untuk meminta maaf dan memperbaiki persahabatan kita. Di hari terakhir kita berjumpa, sebelum dia balik ke Amerika, dia bilang dia ingin makan sushi. Saya pelan-pelan berdoa ke HS (Higher Self) saya: "Tolong bantuin dong, HS, carikan tempat makan sushi yang enak, yang nyaman supaya kita bisa ngobrol dengan santai dan baik-baik." Saat itu tengah turun hujan, dan kita sedang mengeksplorasi kota baru. Saya sudah hendak menyerah saja, sebab tidak lama lagi, dia harus naik kereta untuk kembali ke bandara.
Saat saya menyerah dan memutuskan untuk berjalan kembali ke hotel, tiba-tiba muncul sebuah restoran sushi. Saya berbelok dan mengajaknya untuk makan disana. Saya bersyukur, sebab semuanya berjalan dengan lancar; kita duduk dan menikmati makanan serta percakapan kita disana. Dia pun mampu mengutarakan semua kekesalan dan kekecewaannya terhadap saya, sehingga akhirnya saya mampu meminta maaf dengan tulus, dan berpisah dengan baik-baik.
Sejak saat itu saya tidak berani lagi meremehkan kekuatan pikiran ini. Saya berusaha untuk rajin-rajin menangkap pikiran yang kurang baik, dan memohon ampun kepada HS saya. Mohon ampun, tolong pikiran yang tadi jangan dijadiin, kasian kalau jadi beneran.. hahaha. Memang seram, tetapi indah, kekuatan pikiran kita (:
Salam rahayu,
Wednesday, March 11, 2015
Tanya Jawab
Bertanyalah, maka engkau akan mendapat jawabannya. Kecuali ya sudah paham, itu bertanya pada diri sendiri saja, udah langsung dapet kok jawabannya. Kan udah tau, lebih kayak mengulang atau diingatkan ya.. hehe.
Terakhir kali bertemu Mr Eddy, sebelum Mr Eddy berpulang, saya menanyakan Beliau sebuah pertanyaan, dan jawaban Beliau indah sekali makanya saya ingin share. Semoga bermanfaat :)
---
Murid Edhaka: Jadi kita mampu menciptakan semuanya sendiri. Tetapi kadang saya juga belajar untuk terima apa adanya. Jadi apakah kita harus berusaha menerima atau merubah sesuatu?
Pak Eddy: Oh tentunya, sesuatu hal yang tidak nyaman, tidak enak, kita pengen merubah menjadi lebih enak.. tetapi sikap hidup kita, at the first, kita terima dulu. Jangan kita ga terima dulu. Itu maksudnya untuk mendidik body and mind kita, seperti karakter soul kita. Karena karakter soul kita, dikasih Tuhan: "Nih, elo pake body yang jelek ya?"
"Haaahh.. kok gitu sih, Tuhan..?" (Tidak, HS kita tidak akan pernah ngomong gitu). Sebaliknya, dia bakal bilang: “Siap bos, laksanakan!” (sambil pake gaya hormat ala militer). "Wahh gue cakepnya kayak gini, casing gue jelek banget.. tenang, aku akan ciptakan macem macem, aku jadi orang terkenal, aku jadi hebat, cewe cewe cantik pada dateng.. terimakasih Tuhan.. segala kejelekan yang aku terima ini sempurna Tuhan.. "
Tuhan: Syukurlah kalau kamu mengerti kesempurnaan. Justru aku ciptakan kamu dengan kekurangan supaya kamu bisa sempurna..
---
Terakhir kali bertemu Mr Eddy, sebelum Mr Eddy berpulang, saya menanyakan Beliau sebuah pertanyaan, dan jawaban Beliau indah sekali makanya saya ingin share. Semoga bermanfaat :)
---
Murid Edhaka: Jadi kita mampu menciptakan semuanya sendiri. Tetapi kadang saya juga belajar untuk terima apa adanya. Jadi apakah kita harus berusaha menerima atau merubah sesuatu?
Pak Eddy: Oh tentunya, sesuatu hal yang tidak nyaman, tidak enak, kita pengen merubah menjadi lebih enak.. tetapi sikap hidup kita, at the first, kita terima dulu. Jangan kita ga terima dulu. Itu maksudnya untuk mendidik body and mind kita, seperti karakter soul kita. Karena karakter soul kita, dikasih Tuhan: "Nih, elo pake body yang jelek ya?"
"Haaahh.. kok gitu sih, Tuhan..?" (Tidak, HS kita tidak akan pernah ngomong gitu). Sebaliknya, dia bakal bilang: “Siap bos, laksanakan!” (sambil pake gaya hormat ala militer). "Wahh gue cakepnya kayak gini, casing gue jelek banget.. tenang, aku akan ciptakan macem macem, aku jadi orang terkenal, aku jadi hebat, cewe cewe cantik pada dateng.. terimakasih Tuhan.. segala kejelekan yang aku terima ini sempurna Tuhan.. "
Tuhan: Syukurlah kalau kamu mengerti kesempurnaan. Justru aku ciptakan kamu dengan kekurangan supaya kamu bisa sempurna..
---
Siap, Mr Eddy! Laksanakan! Semoga kekurangan-kekurangan ini mampu membuat kesempurnaan kita menjadi lebih sempurna.
Hehehe.
Salam Rahayu,
Tuesday, February 24, 2015
Manusia Konsekuen
Salah satu privilege saya untuk pernah bertemu Mr Eddy adalah Beliau senantiasa memberi murid-muridnya nasihat untuk kehidupan. Lucunya, pas kita mendengar nasihat Beliau, kita benar-benar merasa: "Yaa, tidak masalah, pasti saya bisa jalani.. Makasih ya Pak, atas nasehatnya.. Saya mengerti kok, paham betul kok, maksud Bapak."
Kemudian, ketika kita menjalani kehidupan ini, kemudian kena batu sandungan, kita mengerang-erang terluka. Kita lupa akan pengertian dari nasihat Beliau. Kita lupa akan nasihat Beliau, sama sekali. Kita mengeluh, kita marah-marah, kita menderita. Mengapa kita? Kemudian sang Semesta akan membawa diri kita untuk mengingat ajaran Beliau.
"Oh iya ya, dulu kan Pak Eddy pernah bilang begitu. Aduuh, pas dilihat keadaanku yang sekarang, kok rasanya nancep banget ya? Pas banget. Sakit memang, tapi ini adalah kesempatan emas untuk menjalankan nasihat Beliau." Dan ketika kita benar-benar bisa meresapi dan menjalankan nasihat beliau, barulah kita benar-benar mengerti, paham dan mampu memaknai nasihat Beliau secara luar-dalam.
Sadis, memang. Berarti, untuk setiap nasihat, atau teori, kemungkinan besar (atau pasti), akan ada sebuah life event untuk menginisiasi kita dan memastikan kita benar-benar mengerti akan life lesson tersebut. Kalau tidak, ya kita tidak akan mengerti-mengerti. Hehehe. Apakah berarti setiap kesulitan hidup harus kita terima sebagai kesempatan untuk mematangkan persepsi kita dan menerapkan ajaran Mr Eddy? Lah, kok kita malah harus senang ya, malah harus bilang.. asyikkk... saat diberi kesulitan dan ujian oleh sang Semesta, ya? Hahaha. Makanya kita terlihat gila di depan mata orang awam. Tidak rasional. Sebab kita tidak takut sakit. Kita tidak takut sengsara sebentar, yang kita mampu nikmati, untuk bahagia selama-lamanya.. hehehe
Murid Edhaka ini kasih contoh ya:
Mr Eddy selalu berkali-kali bilang, berkali-kali menegaskan: Menjadi manusia itu harus menjadi seorang manusia yang konsekuen:
"Padahal kan gue udah milih yang enak tom, elo milih yang ga enak. Tapi kenapa elo lebih canggih daripada gue? Gue milih yang enak lambat gue. Elo cepet smartnya. Kasi tau gue tom kenapa? Mmmmm.. kalo gue sih filosofinya beda ama lo.. kalo lo kan maunya enak sebentar. Enak sebentar, enak sebentar untuk sengsara selamanya.. kalo gue sengsara aja sebentar, gue nikmati. Abis itu.. ya enak selamanya.. hahaha gue ikut lo aja deh. Enakan gitu. Kenapa dari dulu aja ya gue ikut? Karena dulu perasaan gue bener.. lo juga bener.. gue juga bener.. kalo lo salah, gue juga salah.. my friend, masalahnya bukan salah atau benar, tapi masalahnya lo konsekuen apa ngga. Kalo elo konsekuen ya gaada masalah.. masalah mulai muncul karena kita tidak konsekuen. Karena masalah itu kita ciptakan. Kalo kita konsekuen tidak ada masalah juga. Begitu kita ga konsekuen, nah loo.. berhadapan sama kreasimu sendiri.."
Jadi, saya beranggapan kalau saya adalah seorang manusia yang konsekuen. Ya, saya berani saja, apapun yang terjadi, saya tanggung resikonya. Lah, begitu putus cinta (diputuskan.. hehehe). Kok langsung sedih, langsung kecewa, langsung pesimis, langsung marah-marah? Kalau konsekuen kan berati sudah siap menanggung resikonya. Pas lagi mulai menjalani cinta, kalau konsekuen, berarti sudah siap untuk suatu hari apabila cintanya harus putus.
Memang tidak gampang sih, untuk langsung terima apa adanya begitu saja, dan menanggung resiko dan berhadapan dengan hasil kreasiku sendiri. Namanya juga masih hidup di dunia ini ya, masih ada keterbatasan casing. Tetapi, kesadaran adalah kunci. Begitu saya sadar saya harus menjadi konsekuen, saya langsung berusaha terima. Hehehe. Dari situ ya sengsara dan rasa luka ini saya coba nikmati, dan itu bukan namanya proses penyembuhan ya? Dengan kita refleksikan, dengan kita menyadari, semoga kita menjadi lebih baik.. Dan ketika hal itu terjadi, semoga ini sengsaranya bener-bener sebentar doang ya, terus enak selama-lamanya. Amin! hehehe
Salam rahayu,
Kemudian, ketika kita menjalani kehidupan ini, kemudian kena batu sandungan, kita mengerang-erang terluka. Kita lupa akan pengertian dari nasihat Beliau. Kita lupa akan nasihat Beliau, sama sekali. Kita mengeluh, kita marah-marah, kita menderita. Mengapa kita? Kemudian sang Semesta akan membawa diri kita untuk mengingat ajaran Beliau.
"Oh iya ya, dulu kan Pak Eddy pernah bilang begitu. Aduuh, pas dilihat keadaanku yang sekarang, kok rasanya nancep banget ya? Pas banget. Sakit memang, tapi ini adalah kesempatan emas untuk menjalankan nasihat Beliau." Dan ketika kita benar-benar bisa meresapi dan menjalankan nasihat beliau, barulah kita benar-benar mengerti, paham dan mampu memaknai nasihat Beliau secara luar-dalam.
Sadis, memang. Berarti, untuk setiap nasihat, atau teori, kemungkinan besar (atau pasti), akan ada sebuah life event untuk menginisiasi kita dan memastikan kita benar-benar mengerti akan life lesson tersebut. Kalau tidak, ya kita tidak akan mengerti-mengerti. Hehehe. Apakah berarti setiap kesulitan hidup harus kita terima sebagai kesempatan untuk mematangkan persepsi kita dan menerapkan ajaran Mr Eddy? Lah, kok kita malah harus senang ya, malah harus bilang.. asyikkk... saat diberi kesulitan dan ujian oleh sang Semesta, ya? Hahaha. Makanya kita terlihat gila di depan mata orang awam. Tidak rasional. Sebab kita tidak takut sakit. Kita tidak takut sengsara sebentar, yang kita mampu nikmati, untuk bahagia selama-lamanya.. hehehe
Murid Edhaka ini kasih contoh ya:
Mr Eddy selalu berkali-kali bilang, berkali-kali menegaskan: Menjadi manusia itu harus menjadi seorang manusia yang konsekuen:
"Padahal kan gue udah milih yang enak tom, elo milih yang ga enak. Tapi kenapa elo lebih canggih daripada gue? Gue milih yang enak lambat gue. Elo cepet smartnya. Kasi tau gue tom kenapa? Mmmmm.. kalo gue sih filosofinya beda ama lo.. kalo lo kan maunya enak sebentar. Enak sebentar, enak sebentar untuk sengsara selamanya.. kalo gue sengsara aja sebentar, gue nikmati. Abis itu.. ya enak selamanya.. hahaha gue ikut lo aja deh. Enakan gitu. Kenapa dari dulu aja ya gue ikut? Karena dulu perasaan gue bener.. lo juga bener.. gue juga bener.. kalo lo salah, gue juga salah.. my friend, masalahnya bukan salah atau benar, tapi masalahnya lo konsekuen apa ngga. Kalo elo konsekuen ya gaada masalah.. masalah mulai muncul karena kita tidak konsekuen. Karena masalah itu kita ciptakan. Kalo kita konsekuen tidak ada masalah juga. Begitu kita ga konsekuen, nah loo.. berhadapan sama kreasimu sendiri.."
Jadi, saya beranggapan kalau saya adalah seorang manusia yang konsekuen. Ya, saya berani saja, apapun yang terjadi, saya tanggung resikonya. Lah, begitu putus cinta (diputuskan.. hehehe). Kok langsung sedih, langsung kecewa, langsung pesimis, langsung marah-marah? Kalau konsekuen kan berati sudah siap menanggung resikonya. Pas lagi mulai menjalani cinta, kalau konsekuen, berarti sudah siap untuk suatu hari apabila cintanya harus putus.
Memang tidak gampang sih, untuk langsung terima apa adanya begitu saja, dan menanggung resiko dan berhadapan dengan hasil kreasiku sendiri. Namanya juga masih hidup di dunia ini ya, masih ada keterbatasan casing. Tetapi, kesadaran adalah kunci. Begitu saya sadar saya harus menjadi konsekuen, saya langsung berusaha terima. Hehehe. Dari situ ya sengsara dan rasa luka ini saya coba nikmati, dan itu bukan namanya proses penyembuhan ya? Dengan kita refleksikan, dengan kita menyadari, semoga kita menjadi lebih baik.. Dan ketika hal itu terjadi, semoga ini sengsaranya bener-bener sebentar doang ya, terus enak selama-lamanya. Amin! hehehe
Salam rahayu,
Thursday, February 19, 2015
Perjalanan di Negeri Sakura
Hai lagi para pembaca yang kuhormati dan kucintai.. hehe. Apakabar semua? Mohon dimaafkan ya kalau updatenya agak jarang dan telat.. Akhir-akhir ini lagi berasa sedikit menurun, sampai sempat berantem sama pacar segala (ceritanya nanti mungkin dibahas kapan-kapan.. hehehe), tapi syukurlah bisa menemukan titik tumpu untuk berjalan terus lagi. :)
Tidak ada yang namanya kebetulan. Segala sesuatu sudah dikehendaki dan diselenggarakan oleh sang Higher Self kita. Hal inilah yang membuat saya rajin bertanya: "Mengapa saya dikirim ke Jepang, ya?"
Mungkin, jawabannya adalah untuk belajar hidup, dan belajar santai. Kehidupan saya sebagai mahasiswa di Jepang memang jauh lebih senggang dibanding kehidupan saya sebagai mahasiswa di Amerika. Saking santainya, saya sampai terkadang merasa sedih dan panik, apakah saya sedang membuang-buang waktu saya? Tentu saja tidak! Lebih tepatnya, saya terlalu sibuk dan ketagihan mengikuti stress saya ketika saya belajar di Amerika, dan ketika ada saatnya untuk bersantai malah merasa stress karena terlalu santai. Saya lupa bagaimana caranya hidup tanpa stress. Nah loh? Mungkin memang demikianlah watak orang ya; ketika terlalu sibuk memohon-mohon waktu senggang, ketika diberi waktu senggang malah mencari-cari kesibukan. Kapan mau bahagia? Hehehe.
Saya bersyukur karena semester ini di Jepang saya berkesempatan untuk mengambil sebuah kelas spiritualitas. Hari ini, kami belajar mengenai psikoterapi Jepang: Nankai. Nankai memiliki arti melihat kedalam, dan metode psikoterapi ini memang terinspirasi oleh Buddhisme Zen yang populer di Jepang. Partisipan Nankai dituntut untuk merefleksikan pengalaman mereka secara objektif, dan mereka ulang hal-hal yang terjadi. Fakta, bukan opini maupun perasaan.
Partisipan diberi tiga pertanyaan:
1) Apa yang telah kamu terima (dari seseorang itu)
2) Apa yang telah kamu berikan (untuk seseorang itu)
3) Kesulitan apakah yang telah kamu perbuat (terhadap seseorang itu)
Biasanya, partisipan akan memulai tahap-tahap refleksi ini dari ibu, kemudian menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut mengenai ayah, kakak, adik, kekasih, keluarga, dan seterusnya. Dengan menjawab secara jujur dan objektif, partisipan Nankai dituntut untuk melepas lensa mereka. Partisipan Nankai harus belajar untuk melihat tidak dari satu arah saja, melainkan dari dua arah. Biasanya kita hanya memikirkan apa yang kita harap kita terima dari seseorang, tetapi kita jarang mensyukuri apa yang telah kita terima. Kita juga kerap mengingat kesulitan yang diperbuat oleh orang lain terhadap kita, tetapi kita dengan mudahnya melupakan kesulitan yang kita berikan kepada orang lain. Dengan mempertimbangkan hal-hal ini dari dua arah, partisipan akan sadar atas ketergantungan yang menyokong kehidupan mereka, dan dari tahap itu, rasa syukur dan kasih akan muncul.
Terapi Naikan ini diibaratkan dengan membersihkan lensa kita, yang kita pakai untuk melihat dunia. Kenapa lensa ini harus dibersihkan? Sebab kalau lensa kita kotor, pemandangan yang paling indah pun akan terlihat keruh di mata kita. Jadi teringat kata Mr Eddy:
Tidak ada yang namanya kebetulan. Segala sesuatu sudah dikehendaki dan diselenggarakan oleh sang Higher Self kita. Hal inilah yang membuat saya rajin bertanya: "Mengapa saya dikirim ke Jepang, ya?"
Mungkin, jawabannya adalah untuk belajar hidup, dan belajar santai. Kehidupan saya sebagai mahasiswa di Jepang memang jauh lebih senggang dibanding kehidupan saya sebagai mahasiswa di Amerika. Saking santainya, saya sampai terkadang merasa sedih dan panik, apakah saya sedang membuang-buang waktu saya? Tentu saja tidak! Lebih tepatnya, saya terlalu sibuk dan ketagihan mengikuti stress saya ketika saya belajar di Amerika, dan ketika ada saatnya untuk bersantai malah merasa stress karena terlalu santai. Saya lupa bagaimana caranya hidup tanpa stress. Nah loh? Mungkin memang demikianlah watak orang ya; ketika terlalu sibuk memohon-mohon waktu senggang, ketika diberi waktu senggang malah mencari-cari kesibukan. Kapan mau bahagia? Hehehe.
Saya bersyukur karena semester ini di Jepang saya berkesempatan untuk mengambil sebuah kelas spiritualitas. Hari ini, kami belajar mengenai psikoterapi Jepang: Nankai. Nankai memiliki arti melihat kedalam, dan metode psikoterapi ini memang terinspirasi oleh Buddhisme Zen yang populer di Jepang. Partisipan Nankai dituntut untuk merefleksikan pengalaman mereka secara objektif, dan mereka ulang hal-hal yang terjadi. Fakta, bukan opini maupun perasaan.
Partisipan diberi tiga pertanyaan:
1) Apa yang telah kamu terima (dari seseorang itu)
2) Apa yang telah kamu berikan (untuk seseorang itu)
3) Kesulitan apakah yang telah kamu perbuat (terhadap seseorang itu)
Biasanya, partisipan akan memulai tahap-tahap refleksi ini dari ibu, kemudian menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut mengenai ayah, kakak, adik, kekasih, keluarga, dan seterusnya. Dengan menjawab secara jujur dan objektif, partisipan Nankai dituntut untuk melepas lensa mereka. Partisipan Nankai harus belajar untuk melihat tidak dari satu arah saja, melainkan dari dua arah. Biasanya kita hanya memikirkan apa yang kita harap kita terima dari seseorang, tetapi kita jarang mensyukuri apa yang telah kita terima. Kita juga kerap mengingat kesulitan yang diperbuat oleh orang lain terhadap kita, tetapi kita dengan mudahnya melupakan kesulitan yang kita berikan kepada orang lain. Dengan mempertimbangkan hal-hal ini dari dua arah, partisipan akan sadar atas ketergantungan yang menyokong kehidupan mereka, dan dari tahap itu, rasa syukur dan kasih akan muncul.
Terapi Naikan ini diibaratkan dengan membersihkan lensa kita, yang kita pakai untuk melihat dunia. Kenapa lensa ini harus dibersihkan? Sebab kalau lensa kita kotor, pemandangan yang paling indah pun akan terlihat keruh di mata kita. Jadi teringat kata Mr Eddy:
"Yang penting, yang pokok, adalah pendewasaan dimensi dan pematangan jiwa
kita. When there is maturity, there is no problem at all. There is so many
problem but I don’t see it at all. Kita sendirilah yang berkewajiban untuk
menyempurnakan kesadaran kita, inilah yang kita panggil kewajiban asasi
manusia."
Saya rasa, bagian daripada menyempurnakan kesadaran kita adalah membersihkan lensa kita. Mengubah cara pandang kita terhadap hidup dan kehidupan. Jika kita bisa melakukan itu, maka kita akan menjadi sadar. Ketika kita sadar, maka:
"Anda akan mampu menikmati yang tidak enak sekalipun, dan
merubah yang tidak enak menjadi enak, dan yang enak menjadi enak sekali. Suatu
hari, ketika itu terjadi, Anda baru bisa merasakan hidup yang sesungguhnya.
Anda hanya perlu split second untuk merubahnya."
Ada berbagai cara untuk untuk menjadi sadar. Nankai, membersihkan lensa, dan mengenal jati diri sendiri tentu hanyalah sebagian cara dari puluhan cara-cara lainnya. Tetapi, saya percaya, selama kita meniatkan hal tersebut, dan tidak lupa untuk belajar mengenal diri sendiri secara lebih dalam, maka kita tidak akan pernah jauh dari kebahagiaan. Ya, kebahagiaan yang hanya perlu sekejap mata saja untuk dimanifestasikan.
Para pembaca yang terhormat, selamat merasakan hidup yang sesungguhnya!
Salam rahayu,
Subscribe to:
Posts (Atom)