Para pembaca yang terhormat,
Hari ini pendek aja kali ya, hehehe. Soalnya cuma cerita pengalaman peribadi saja (sekalian nyolong-nyolong curhat, gitu.. hehehe). Kata mutiara hari ini dua kata saja yah: Kekuatan pikiran.
Kata Pak Eddy, begitu kita sadar akan seberapa kuatnya pikiran kita ini, kita ngga akan ngomong sembarangan, bahkan ga akan berani mikir sembarangan lagi. Seperti biasa, pada saat Beliau bersabda, murid Edhaka yang ini merasa mengerti. Ternyata tidak juga, karena begitu dijalani kehidupan ini barulah murid Edhaka ini perlahan meresapi hikmah daripada kekuatan pikiran.
Kita semua diciptakan dengan kemampuan untuk merubah realitas dan untuk menciptakan. Terkadang pikiran itu memang bukan milik kita, tetapi intuisiku adalah kita harus belajar memilikinya, dan bertanggung jawab atas pikiran tersebut. Karena kalau tidak, bisa gawat jadinya. Ambil contoh, waktu saya berantem sama pacar saya, pikiran negatif yang saya akumulasikan terhadap dia sungguh kelewat parah, sampai sampai akhirnya kita harus mengakhiri hubungan kita ini.
Tetapi, di dalam kegelapan tersebut, arah sebaliknya juga sama kuatnya. Perlahan-lahan saya berdoa, meminta kesempatan untuk meminta maaf dan memperbaiki persahabatan kita. Di hari terakhir kita berjumpa, sebelum dia balik ke Amerika, dia bilang dia ingin makan sushi. Saya pelan-pelan berdoa ke HS (Higher Self) saya: "Tolong bantuin dong, HS, carikan tempat makan sushi yang enak, yang nyaman supaya kita bisa ngobrol dengan santai dan baik-baik." Saat itu tengah turun hujan, dan kita sedang mengeksplorasi kota baru. Saya sudah hendak menyerah saja, sebab tidak lama lagi, dia harus naik kereta untuk kembali ke bandara.
Saat saya menyerah dan memutuskan untuk berjalan kembali ke hotel, tiba-tiba muncul sebuah restoran sushi. Saya berbelok dan mengajaknya untuk makan disana. Saya bersyukur, sebab semuanya berjalan dengan lancar; kita duduk dan menikmati makanan serta percakapan kita disana. Dia pun mampu mengutarakan semua kekesalan dan kekecewaannya terhadap saya, sehingga akhirnya saya mampu meminta maaf dengan tulus, dan berpisah dengan baik-baik.
Sejak saat itu saya tidak berani lagi meremehkan kekuatan pikiran ini. Saya berusaha untuk rajin-rajin menangkap pikiran yang kurang baik, dan memohon ampun kepada HS saya. Mohon ampun, tolong pikiran yang tadi jangan dijadiin, kasian kalau jadi beneran.. hahaha. Memang seram, tetapi indah, kekuatan pikiran kita (:
Salam rahayu,
Blog ini didedikasikan kepada Edhaka alias Mr BJ Eddy Soetyono, grand master dan guru besar dalam ilmu kehidupan.
Sunday, March 29, 2015
Wednesday, March 11, 2015
Tanya Jawab
Bertanyalah, maka engkau akan mendapat jawabannya. Kecuali ya sudah paham, itu bertanya pada diri sendiri saja, udah langsung dapet kok jawabannya. Kan udah tau, lebih kayak mengulang atau diingatkan ya.. hehe.
Terakhir kali bertemu Mr Eddy, sebelum Mr Eddy berpulang, saya menanyakan Beliau sebuah pertanyaan, dan jawaban Beliau indah sekali makanya saya ingin share. Semoga bermanfaat :)
---
Murid Edhaka: Jadi kita mampu menciptakan semuanya sendiri. Tetapi kadang saya juga belajar untuk terima apa adanya. Jadi apakah kita harus berusaha menerima atau merubah sesuatu?
Pak Eddy: Oh tentunya, sesuatu hal yang tidak nyaman, tidak enak, kita pengen merubah menjadi lebih enak.. tetapi sikap hidup kita, at the first, kita terima dulu. Jangan kita ga terima dulu. Itu maksudnya untuk mendidik body and mind kita, seperti karakter soul kita. Karena karakter soul kita, dikasih Tuhan: "Nih, elo pake body yang jelek ya?"
"Haaahh.. kok gitu sih, Tuhan..?" (Tidak, HS kita tidak akan pernah ngomong gitu). Sebaliknya, dia bakal bilang: “Siap bos, laksanakan!” (sambil pake gaya hormat ala militer). "Wahh gue cakepnya kayak gini, casing gue jelek banget.. tenang, aku akan ciptakan macem macem, aku jadi orang terkenal, aku jadi hebat, cewe cewe cantik pada dateng.. terimakasih Tuhan.. segala kejelekan yang aku terima ini sempurna Tuhan.. "
Tuhan: Syukurlah kalau kamu mengerti kesempurnaan. Justru aku ciptakan kamu dengan kekurangan supaya kamu bisa sempurna..
---
Terakhir kali bertemu Mr Eddy, sebelum Mr Eddy berpulang, saya menanyakan Beliau sebuah pertanyaan, dan jawaban Beliau indah sekali makanya saya ingin share. Semoga bermanfaat :)
---
Murid Edhaka: Jadi kita mampu menciptakan semuanya sendiri. Tetapi kadang saya juga belajar untuk terima apa adanya. Jadi apakah kita harus berusaha menerima atau merubah sesuatu?
Pak Eddy: Oh tentunya, sesuatu hal yang tidak nyaman, tidak enak, kita pengen merubah menjadi lebih enak.. tetapi sikap hidup kita, at the first, kita terima dulu. Jangan kita ga terima dulu. Itu maksudnya untuk mendidik body and mind kita, seperti karakter soul kita. Karena karakter soul kita, dikasih Tuhan: "Nih, elo pake body yang jelek ya?"
"Haaahh.. kok gitu sih, Tuhan..?" (Tidak, HS kita tidak akan pernah ngomong gitu). Sebaliknya, dia bakal bilang: “Siap bos, laksanakan!” (sambil pake gaya hormat ala militer). "Wahh gue cakepnya kayak gini, casing gue jelek banget.. tenang, aku akan ciptakan macem macem, aku jadi orang terkenal, aku jadi hebat, cewe cewe cantik pada dateng.. terimakasih Tuhan.. segala kejelekan yang aku terima ini sempurna Tuhan.. "
Tuhan: Syukurlah kalau kamu mengerti kesempurnaan. Justru aku ciptakan kamu dengan kekurangan supaya kamu bisa sempurna..
---
Siap, Mr Eddy! Laksanakan! Semoga kekurangan-kekurangan ini mampu membuat kesempurnaan kita menjadi lebih sempurna.
Hehehe.
Salam Rahayu,
Tuesday, February 24, 2015
Manusia Konsekuen
Salah satu privilege saya untuk pernah bertemu Mr Eddy adalah Beliau senantiasa memberi murid-muridnya nasihat untuk kehidupan. Lucunya, pas kita mendengar nasihat Beliau, kita benar-benar merasa: "Yaa, tidak masalah, pasti saya bisa jalani.. Makasih ya Pak, atas nasehatnya.. Saya mengerti kok, paham betul kok, maksud Bapak."
Kemudian, ketika kita menjalani kehidupan ini, kemudian kena batu sandungan, kita mengerang-erang terluka. Kita lupa akan pengertian dari nasihat Beliau. Kita lupa akan nasihat Beliau, sama sekali. Kita mengeluh, kita marah-marah, kita menderita. Mengapa kita? Kemudian sang Semesta akan membawa diri kita untuk mengingat ajaran Beliau.
"Oh iya ya, dulu kan Pak Eddy pernah bilang begitu. Aduuh, pas dilihat keadaanku yang sekarang, kok rasanya nancep banget ya? Pas banget. Sakit memang, tapi ini adalah kesempatan emas untuk menjalankan nasihat Beliau." Dan ketika kita benar-benar bisa meresapi dan menjalankan nasihat beliau, barulah kita benar-benar mengerti, paham dan mampu memaknai nasihat Beliau secara luar-dalam.
Sadis, memang. Berarti, untuk setiap nasihat, atau teori, kemungkinan besar (atau pasti), akan ada sebuah life event untuk menginisiasi kita dan memastikan kita benar-benar mengerti akan life lesson tersebut. Kalau tidak, ya kita tidak akan mengerti-mengerti. Hehehe. Apakah berarti setiap kesulitan hidup harus kita terima sebagai kesempatan untuk mematangkan persepsi kita dan menerapkan ajaran Mr Eddy? Lah, kok kita malah harus senang ya, malah harus bilang.. asyikkk... saat diberi kesulitan dan ujian oleh sang Semesta, ya? Hahaha. Makanya kita terlihat gila di depan mata orang awam. Tidak rasional. Sebab kita tidak takut sakit. Kita tidak takut sengsara sebentar, yang kita mampu nikmati, untuk bahagia selama-lamanya.. hehehe
Murid Edhaka ini kasih contoh ya:
Mr Eddy selalu berkali-kali bilang, berkali-kali menegaskan: Menjadi manusia itu harus menjadi seorang manusia yang konsekuen:
"Padahal kan gue udah milih yang enak tom, elo milih yang ga enak. Tapi kenapa elo lebih canggih daripada gue? Gue milih yang enak lambat gue. Elo cepet smartnya. Kasi tau gue tom kenapa? Mmmmm.. kalo gue sih filosofinya beda ama lo.. kalo lo kan maunya enak sebentar. Enak sebentar, enak sebentar untuk sengsara selamanya.. kalo gue sengsara aja sebentar, gue nikmati. Abis itu.. ya enak selamanya.. hahaha gue ikut lo aja deh. Enakan gitu. Kenapa dari dulu aja ya gue ikut? Karena dulu perasaan gue bener.. lo juga bener.. gue juga bener.. kalo lo salah, gue juga salah.. my friend, masalahnya bukan salah atau benar, tapi masalahnya lo konsekuen apa ngga. Kalo elo konsekuen ya gaada masalah.. masalah mulai muncul karena kita tidak konsekuen. Karena masalah itu kita ciptakan. Kalo kita konsekuen tidak ada masalah juga. Begitu kita ga konsekuen, nah loo.. berhadapan sama kreasimu sendiri.."
Jadi, saya beranggapan kalau saya adalah seorang manusia yang konsekuen. Ya, saya berani saja, apapun yang terjadi, saya tanggung resikonya. Lah, begitu putus cinta (diputuskan.. hehehe). Kok langsung sedih, langsung kecewa, langsung pesimis, langsung marah-marah? Kalau konsekuen kan berati sudah siap menanggung resikonya. Pas lagi mulai menjalani cinta, kalau konsekuen, berarti sudah siap untuk suatu hari apabila cintanya harus putus.
Memang tidak gampang sih, untuk langsung terima apa adanya begitu saja, dan menanggung resiko dan berhadapan dengan hasil kreasiku sendiri. Namanya juga masih hidup di dunia ini ya, masih ada keterbatasan casing. Tetapi, kesadaran adalah kunci. Begitu saya sadar saya harus menjadi konsekuen, saya langsung berusaha terima. Hehehe. Dari situ ya sengsara dan rasa luka ini saya coba nikmati, dan itu bukan namanya proses penyembuhan ya? Dengan kita refleksikan, dengan kita menyadari, semoga kita menjadi lebih baik.. Dan ketika hal itu terjadi, semoga ini sengsaranya bener-bener sebentar doang ya, terus enak selama-lamanya. Amin! hehehe
Salam rahayu,
Kemudian, ketika kita menjalani kehidupan ini, kemudian kena batu sandungan, kita mengerang-erang terluka. Kita lupa akan pengertian dari nasihat Beliau. Kita lupa akan nasihat Beliau, sama sekali. Kita mengeluh, kita marah-marah, kita menderita. Mengapa kita? Kemudian sang Semesta akan membawa diri kita untuk mengingat ajaran Beliau.
"Oh iya ya, dulu kan Pak Eddy pernah bilang begitu. Aduuh, pas dilihat keadaanku yang sekarang, kok rasanya nancep banget ya? Pas banget. Sakit memang, tapi ini adalah kesempatan emas untuk menjalankan nasihat Beliau." Dan ketika kita benar-benar bisa meresapi dan menjalankan nasihat beliau, barulah kita benar-benar mengerti, paham dan mampu memaknai nasihat Beliau secara luar-dalam.
Sadis, memang. Berarti, untuk setiap nasihat, atau teori, kemungkinan besar (atau pasti), akan ada sebuah life event untuk menginisiasi kita dan memastikan kita benar-benar mengerti akan life lesson tersebut. Kalau tidak, ya kita tidak akan mengerti-mengerti. Hehehe. Apakah berarti setiap kesulitan hidup harus kita terima sebagai kesempatan untuk mematangkan persepsi kita dan menerapkan ajaran Mr Eddy? Lah, kok kita malah harus senang ya, malah harus bilang.. asyikkk... saat diberi kesulitan dan ujian oleh sang Semesta, ya? Hahaha. Makanya kita terlihat gila di depan mata orang awam. Tidak rasional. Sebab kita tidak takut sakit. Kita tidak takut sengsara sebentar, yang kita mampu nikmati, untuk bahagia selama-lamanya.. hehehe
Murid Edhaka ini kasih contoh ya:
Mr Eddy selalu berkali-kali bilang, berkali-kali menegaskan: Menjadi manusia itu harus menjadi seorang manusia yang konsekuen:
"Padahal kan gue udah milih yang enak tom, elo milih yang ga enak. Tapi kenapa elo lebih canggih daripada gue? Gue milih yang enak lambat gue. Elo cepet smartnya. Kasi tau gue tom kenapa? Mmmmm.. kalo gue sih filosofinya beda ama lo.. kalo lo kan maunya enak sebentar. Enak sebentar, enak sebentar untuk sengsara selamanya.. kalo gue sengsara aja sebentar, gue nikmati. Abis itu.. ya enak selamanya.. hahaha gue ikut lo aja deh. Enakan gitu. Kenapa dari dulu aja ya gue ikut? Karena dulu perasaan gue bener.. lo juga bener.. gue juga bener.. kalo lo salah, gue juga salah.. my friend, masalahnya bukan salah atau benar, tapi masalahnya lo konsekuen apa ngga. Kalo elo konsekuen ya gaada masalah.. masalah mulai muncul karena kita tidak konsekuen. Karena masalah itu kita ciptakan. Kalo kita konsekuen tidak ada masalah juga. Begitu kita ga konsekuen, nah loo.. berhadapan sama kreasimu sendiri.."
Jadi, saya beranggapan kalau saya adalah seorang manusia yang konsekuen. Ya, saya berani saja, apapun yang terjadi, saya tanggung resikonya. Lah, begitu putus cinta (diputuskan.. hehehe). Kok langsung sedih, langsung kecewa, langsung pesimis, langsung marah-marah? Kalau konsekuen kan berati sudah siap menanggung resikonya. Pas lagi mulai menjalani cinta, kalau konsekuen, berarti sudah siap untuk suatu hari apabila cintanya harus putus.
Memang tidak gampang sih, untuk langsung terima apa adanya begitu saja, dan menanggung resiko dan berhadapan dengan hasil kreasiku sendiri. Namanya juga masih hidup di dunia ini ya, masih ada keterbatasan casing. Tetapi, kesadaran adalah kunci. Begitu saya sadar saya harus menjadi konsekuen, saya langsung berusaha terima. Hehehe. Dari situ ya sengsara dan rasa luka ini saya coba nikmati, dan itu bukan namanya proses penyembuhan ya? Dengan kita refleksikan, dengan kita menyadari, semoga kita menjadi lebih baik.. Dan ketika hal itu terjadi, semoga ini sengsaranya bener-bener sebentar doang ya, terus enak selama-lamanya. Amin! hehehe
Salam rahayu,
Thursday, February 19, 2015
Perjalanan di Negeri Sakura
Hai lagi para pembaca yang kuhormati dan kucintai.. hehe. Apakabar semua? Mohon dimaafkan ya kalau updatenya agak jarang dan telat.. Akhir-akhir ini lagi berasa sedikit menurun, sampai sempat berantem sama pacar segala (ceritanya nanti mungkin dibahas kapan-kapan.. hehehe), tapi syukurlah bisa menemukan titik tumpu untuk berjalan terus lagi. :)
Tidak ada yang namanya kebetulan. Segala sesuatu sudah dikehendaki dan diselenggarakan oleh sang Higher Self kita. Hal inilah yang membuat saya rajin bertanya: "Mengapa saya dikirim ke Jepang, ya?"
Mungkin, jawabannya adalah untuk belajar hidup, dan belajar santai. Kehidupan saya sebagai mahasiswa di Jepang memang jauh lebih senggang dibanding kehidupan saya sebagai mahasiswa di Amerika. Saking santainya, saya sampai terkadang merasa sedih dan panik, apakah saya sedang membuang-buang waktu saya? Tentu saja tidak! Lebih tepatnya, saya terlalu sibuk dan ketagihan mengikuti stress saya ketika saya belajar di Amerika, dan ketika ada saatnya untuk bersantai malah merasa stress karena terlalu santai. Saya lupa bagaimana caranya hidup tanpa stress. Nah loh? Mungkin memang demikianlah watak orang ya; ketika terlalu sibuk memohon-mohon waktu senggang, ketika diberi waktu senggang malah mencari-cari kesibukan. Kapan mau bahagia? Hehehe.
Saya bersyukur karena semester ini di Jepang saya berkesempatan untuk mengambil sebuah kelas spiritualitas. Hari ini, kami belajar mengenai psikoterapi Jepang: Nankai. Nankai memiliki arti melihat kedalam, dan metode psikoterapi ini memang terinspirasi oleh Buddhisme Zen yang populer di Jepang. Partisipan Nankai dituntut untuk merefleksikan pengalaman mereka secara objektif, dan mereka ulang hal-hal yang terjadi. Fakta, bukan opini maupun perasaan.
Partisipan diberi tiga pertanyaan:
1) Apa yang telah kamu terima (dari seseorang itu)
2) Apa yang telah kamu berikan (untuk seseorang itu)
3) Kesulitan apakah yang telah kamu perbuat (terhadap seseorang itu)
Biasanya, partisipan akan memulai tahap-tahap refleksi ini dari ibu, kemudian menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut mengenai ayah, kakak, adik, kekasih, keluarga, dan seterusnya. Dengan menjawab secara jujur dan objektif, partisipan Nankai dituntut untuk melepas lensa mereka. Partisipan Nankai harus belajar untuk melihat tidak dari satu arah saja, melainkan dari dua arah. Biasanya kita hanya memikirkan apa yang kita harap kita terima dari seseorang, tetapi kita jarang mensyukuri apa yang telah kita terima. Kita juga kerap mengingat kesulitan yang diperbuat oleh orang lain terhadap kita, tetapi kita dengan mudahnya melupakan kesulitan yang kita berikan kepada orang lain. Dengan mempertimbangkan hal-hal ini dari dua arah, partisipan akan sadar atas ketergantungan yang menyokong kehidupan mereka, dan dari tahap itu, rasa syukur dan kasih akan muncul.
Terapi Naikan ini diibaratkan dengan membersihkan lensa kita, yang kita pakai untuk melihat dunia. Kenapa lensa ini harus dibersihkan? Sebab kalau lensa kita kotor, pemandangan yang paling indah pun akan terlihat keruh di mata kita. Jadi teringat kata Mr Eddy:
Tidak ada yang namanya kebetulan. Segala sesuatu sudah dikehendaki dan diselenggarakan oleh sang Higher Self kita. Hal inilah yang membuat saya rajin bertanya: "Mengapa saya dikirim ke Jepang, ya?"
Mungkin, jawabannya adalah untuk belajar hidup, dan belajar santai. Kehidupan saya sebagai mahasiswa di Jepang memang jauh lebih senggang dibanding kehidupan saya sebagai mahasiswa di Amerika. Saking santainya, saya sampai terkadang merasa sedih dan panik, apakah saya sedang membuang-buang waktu saya? Tentu saja tidak! Lebih tepatnya, saya terlalu sibuk dan ketagihan mengikuti stress saya ketika saya belajar di Amerika, dan ketika ada saatnya untuk bersantai malah merasa stress karena terlalu santai. Saya lupa bagaimana caranya hidup tanpa stress. Nah loh? Mungkin memang demikianlah watak orang ya; ketika terlalu sibuk memohon-mohon waktu senggang, ketika diberi waktu senggang malah mencari-cari kesibukan. Kapan mau bahagia? Hehehe.
Saya bersyukur karena semester ini di Jepang saya berkesempatan untuk mengambil sebuah kelas spiritualitas. Hari ini, kami belajar mengenai psikoterapi Jepang: Nankai. Nankai memiliki arti melihat kedalam, dan metode psikoterapi ini memang terinspirasi oleh Buddhisme Zen yang populer di Jepang. Partisipan Nankai dituntut untuk merefleksikan pengalaman mereka secara objektif, dan mereka ulang hal-hal yang terjadi. Fakta, bukan opini maupun perasaan.
Partisipan diberi tiga pertanyaan:
1) Apa yang telah kamu terima (dari seseorang itu)
2) Apa yang telah kamu berikan (untuk seseorang itu)
3) Kesulitan apakah yang telah kamu perbuat (terhadap seseorang itu)
Biasanya, partisipan akan memulai tahap-tahap refleksi ini dari ibu, kemudian menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut mengenai ayah, kakak, adik, kekasih, keluarga, dan seterusnya. Dengan menjawab secara jujur dan objektif, partisipan Nankai dituntut untuk melepas lensa mereka. Partisipan Nankai harus belajar untuk melihat tidak dari satu arah saja, melainkan dari dua arah. Biasanya kita hanya memikirkan apa yang kita harap kita terima dari seseorang, tetapi kita jarang mensyukuri apa yang telah kita terima. Kita juga kerap mengingat kesulitan yang diperbuat oleh orang lain terhadap kita, tetapi kita dengan mudahnya melupakan kesulitan yang kita berikan kepada orang lain. Dengan mempertimbangkan hal-hal ini dari dua arah, partisipan akan sadar atas ketergantungan yang menyokong kehidupan mereka, dan dari tahap itu, rasa syukur dan kasih akan muncul.
Terapi Naikan ini diibaratkan dengan membersihkan lensa kita, yang kita pakai untuk melihat dunia. Kenapa lensa ini harus dibersihkan? Sebab kalau lensa kita kotor, pemandangan yang paling indah pun akan terlihat keruh di mata kita. Jadi teringat kata Mr Eddy:
"Yang penting, yang pokok, adalah pendewasaan dimensi dan pematangan jiwa
kita. When there is maturity, there is no problem at all. There is so many
problem but I don’t see it at all. Kita sendirilah yang berkewajiban untuk
menyempurnakan kesadaran kita, inilah yang kita panggil kewajiban asasi
manusia."
Saya rasa, bagian daripada menyempurnakan kesadaran kita adalah membersihkan lensa kita. Mengubah cara pandang kita terhadap hidup dan kehidupan. Jika kita bisa melakukan itu, maka kita akan menjadi sadar. Ketika kita sadar, maka:
"Anda akan mampu menikmati yang tidak enak sekalipun, dan
merubah yang tidak enak menjadi enak, dan yang enak menjadi enak sekali. Suatu
hari, ketika itu terjadi, Anda baru bisa merasakan hidup yang sesungguhnya.
Anda hanya perlu split second untuk merubahnya."
Ada berbagai cara untuk untuk menjadi sadar. Nankai, membersihkan lensa, dan mengenal jati diri sendiri tentu hanyalah sebagian cara dari puluhan cara-cara lainnya. Tetapi, saya percaya, selama kita meniatkan hal tersebut, dan tidak lupa untuk belajar mengenal diri sendiri secara lebih dalam, maka kita tidak akan pernah jauh dari kebahagiaan. Ya, kebahagiaan yang hanya perlu sekejap mata saja untuk dimanifestasikan.
Para pembaca yang terhormat, selamat merasakan hidup yang sesungguhnya!
Salam rahayu,
Thursday, January 15, 2015
Mobil
Hari ini saya baru saja ke Pasar Raya Grande punya Kafe Batik. Di tempat itulah saya terakhir kali berjumpa dengan Mr Eddy, sebelum beliau berpulang pada September 2013. Yang saya pesan pun masih sama aja, nasi goreng rempah dan teh poci. Sambil saya makan, saya minum, dan saya nikmati, saya berdoa kepada Mr Eddy, bersyukur, dan pamitan (sebab besok mau memulai semester baru di Jepang..) Rasanya masih kelihatan saja senyum manisnya beliau, masih tercium saja asap rokok beliau.. hehehe. Yah memang tidak boleh live in the past, sih.. Kalau nyetir kan ngeliatnya kedepan, bukan kebelakang.. Tapi ya namanya kangen sekali-kali boleh dong Pak.. hehehe..
Jadi saya sambil makan, sambil minum, juga sambil dengerin rekaman suara Mr Eddy. Jadi teringat kembali, saya pernah nanya, siapakah saya, siapakah Aku? Kata Mr Eddy: Saya adalah mind and body, sebuah vehicle (kendaraan) yang dipinjamkan oleh Tuhan kepada Aku. Aku adalah soul, otoritas dan kehendak Tuhan, yang diberi kuasa (dan resources) untuk mengekspresikan kehendakNya..
Pas saya naik ke mobil, menyetir, dan bermacet-macet ria, saya jadi tersadar. Oh iya, mind dan body saya itu seperti mobil ini ya. Soulnya itu adalah pengemudi kita. Memang seperti mobil, kita rasanya gatau apa-apa, cuma dibawa setir-setir saja.. Terkadang kita lihat jalanannya rusak, banyak berlubang, becek, kotor, dll.. Terkadang juga macet, atau malah nyasar.. Tetapi kita kan sebenarnya juga cuma mobil saja. Mesti siap dibawa dan diarahkan oleh sang pengemudi, yaitu Higher Self kita.. Kadang-kadang kita mogok gitu ya, terus perlu diservis, dll.. ya biasa lah.. Tetapi di hari lain kita bisa ngebut di jalan tol. Sebab terkadang macet-macet itu perlu sedikit, nyasar-nyasar itu perlu sedikit, supaya kita bisa nyampai ke tujuan dengan selamat. Hehehe.
Jadi saya berpikir.. Kenapa saya mesti takut? Orang yang nyetir tahu jalan kok. Lah soul kita kan berlipat-lipat lebih mampu dan yakin daripada casing kita. Kita enak juga, tinggal mengikuti arahan soul kita, pas di gas, ya nge gas. Pas di rem, ya di rem. Kalau dibawa ke yang sakit-sakit dikit (polisi tidur, lobang-lobang) dll yang bikin lecet, ya diketawain aja. Diterima, dan dibikin enteng. Baru berasa ya, ketika kita sadar kalau kita sedang diarahkan dan tinggal mengikuti saja, dan memberi yang terbaik, rasa tegang itu hilang. Apa saja dibecandain saja, disertai dengan senyum manis dan ketawa. Maka dunia ini akan lebih indah, hidup ini terasa lebih ringan, dan tahu-tahu sudah nyampe aja. hehehe :)
Mohon doa restunya ya, para pembaca, atas pertualanganku di negeri Jepun..
Salam rahayu,
Jadi saya sambil makan, sambil minum, juga sambil dengerin rekaman suara Mr Eddy. Jadi teringat kembali, saya pernah nanya, siapakah saya, siapakah Aku? Kata Mr Eddy: Saya adalah mind and body, sebuah vehicle (kendaraan) yang dipinjamkan oleh Tuhan kepada Aku. Aku adalah soul, otoritas dan kehendak Tuhan, yang diberi kuasa (dan resources) untuk mengekspresikan kehendakNya..
Pas saya naik ke mobil, menyetir, dan bermacet-macet ria, saya jadi tersadar. Oh iya, mind dan body saya itu seperti mobil ini ya. Soulnya itu adalah pengemudi kita. Memang seperti mobil, kita rasanya gatau apa-apa, cuma dibawa setir-setir saja.. Terkadang kita lihat jalanannya rusak, banyak berlubang, becek, kotor, dll.. Terkadang juga macet, atau malah nyasar.. Tetapi kita kan sebenarnya juga cuma mobil saja. Mesti siap dibawa dan diarahkan oleh sang pengemudi, yaitu Higher Self kita.. Kadang-kadang kita mogok gitu ya, terus perlu diservis, dll.. ya biasa lah.. Tetapi di hari lain kita bisa ngebut di jalan tol. Sebab terkadang macet-macet itu perlu sedikit, nyasar-nyasar itu perlu sedikit, supaya kita bisa nyampai ke tujuan dengan selamat. Hehehe.
Jadi saya berpikir.. Kenapa saya mesti takut? Orang yang nyetir tahu jalan kok. Lah soul kita kan berlipat-lipat lebih mampu dan yakin daripada casing kita. Kita enak juga, tinggal mengikuti arahan soul kita, pas di gas, ya nge gas. Pas di rem, ya di rem. Kalau dibawa ke yang sakit-sakit dikit (polisi tidur, lobang-lobang) dll yang bikin lecet, ya diketawain aja. Diterima, dan dibikin enteng. Baru berasa ya, ketika kita sadar kalau kita sedang diarahkan dan tinggal mengikuti saja, dan memberi yang terbaik, rasa tegang itu hilang. Apa saja dibecandain saja, disertai dengan senyum manis dan ketawa. Maka dunia ini akan lebih indah, hidup ini terasa lebih ringan, dan tahu-tahu sudah nyampe aja. hehehe :)
Mohon doa restunya ya, para pembaca, atas pertualanganku di negeri Jepun..
Salam rahayu,
Tuesday, January 6, 2015
Percaya Diri
Haii para pembaca.. Selamat tahun baru ya.. Mohon maaf sudah lama tidak diupdate blog ini.. Buat saya sendiri, tema tahun baru saya, tahun 2015 ini, adalah menjadi manusia, dan bagaimanakah kita tahu kalau kita sudah menjadi manusia? Ya.. Kita bisa bedain, manusia, atau humankind, itu mencintai, dan tidak judgemental. Mereka juga punya faith, dan percaya diri. Kata Mr Eddy, kalau masih suka khawatir, dan masih suka mengeluh, itu namanya belum jadi manusia, hanya menjadi orang saja, sebab jika kita mengeluh, kita sedang melecehkan kuasa Tuhan yang berada di dalam diri kita.
Saya memang bukan berlatar belakang agama Kristiani, tetapi berhubung saya belajar di sekolah Katolik selama bertahun-tahun, saya sedikit-sedikit menyerap juga cerita-cerita Kristiani. Saya ingat sekali ketika Tuhan Yesus mengatakan bahwa muridnya yang pertama, Petrus, akan menyangkal dirinya tiga kali sampai ayam yang akan berkokok. Sesungguhnya, jika kita mengeluh, dan tidak percaya diri, bukannya kita sedang menyangkal Tuhan? Menyangkal itu berarti men-deny, dan jika kita terus-terusan men-deny sebuah entitas yang menyelenggarakan hidup kita, bukankah semuanya akan berantakan?
Tetapi, Pak Eddy juga sering berkata: "Indah pada waktuNya.." Saya juga percaya hal yang sama, mungkin terkadang saya masih kelepasan emosian atau mengeluh, tetapi saya berusaha menyadari ketika saya melakukan hal-hal tersebut, dan menguranginya. Yah, semoga saja tahun ini indah pada waktuNya, dan kita lebih banyak bersyukur daripada mengeluh, ya!
Selamat tahun baru :)
Saya memang bukan berlatar belakang agama Kristiani, tetapi berhubung saya belajar di sekolah Katolik selama bertahun-tahun, saya sedikit-sedikit menyerap juga cerita-cerita Kristiani. Saya ingat sekali ketika Tuhan Yesus mengatakan bahwa muridnya yang pertama, Petrus, akan menyangkal dirinya tiga kali sampai ayam yang akan berkokok. Sesungguhnya, jika kita mengeluh, dan tidak percaya diri, bukannya kita sedang menyangkal Tuhan? Menyangkal itu berarti men-deny, dan jika kita terus-terusan men-deny sebuah entitas yang menyelenggarakan hidup kita, bukankah semuanya akan berantakan?
Tetapi, Pak Eddy juga sering berkata: "Indah pada waktuNya.." Saya juga percaya hal yang sama, mungkin terkadang saya masih kelepasan emosian atau mengeluh, tetapi saya berusaha menyadari ketika saya melakukan hal-hal tersebut, dan menguranginya. Yah, semoga saja tahun ini indah pada waktuNya, dan kita lebih banyak bersyukur daripada mengeluh, ya!
Selamat tahun baru :)
Saturday, November 29, 2014
Karma
Hai para pembaca yang kuhormati dan kucintai..
Maaf ya, agak lama meng-update blog ini.. Barusan kembali dari liburan Thanksgiving di Kanada. Juga sempat bertemu dan mendapatkan banyak bimbingan dari sesama murid Pak Eddy yang kebenaran berdomisili di Toronto. (Terimakasih banyak ya, Kak Ira! hehehe)
Tulisan kali ini berusaha untuk menjawab pertanyaan dari Yuu, terimakasih banyak ya untuk pertanyaannya! Pertanyaan pertama adalah mengenai pembahasan karma.
Saya sendiri sempat mendalami Buddhisme selama sekitar empat tahun lebih, dan esensi karma adalah hukum sebat-akibat. Kalau kata Mr Eddy, dunia adalah panggung sandiwara. Sebab terlalu serius ber-akting (hingga lupa kalau sesungguhnya cuma perwayangan saja) akibatnya malah dihukum (dihajar). Ini namanya menimbulkan karma. Sebaiknya kita santai saja, rahayu saja, nrimo saja. Lah, memang kepasrahan kepada kehendak Tuhan merupakan tingkat tertinggi bagi kita kok (lihat AAA, Ala apa adanya). Ketika kita santai, pasrah, dan menikmati bagian permainan kita, maka kita akan menjadi bebas dari karma.
Bukan saja itu, dari pelajaran-pelajaran sinetron-sinetron tersebut, kita mampu menyadari bahwa semua pikiran, perkataan, dan perbuatan kita di setiap saat adalah berkualitas, dan merupakan untuk hal yang terbaik. Di saat itu, karma berubah menjadi dharma. Apakah dharma itu? Dharma merupakan kebenaran, suatu hal mutlak yang tidak bisa dinafikan. Inilah yang disebut pencerahan di dalam Buddhisme, suatu hal yang dicari oleh jutaan bhiksu-bhiksu dan umat-umat ketika mereka duduk bersila dan mengatur nafas mereka (meditasi). Apakah sebenarnya pencerahan itu? Apakah sebenarnya dharma itu? Tidak lain, dan tidak bukan, adalah kebersatuan saya, Aku, dan Tuhan. Ketika mind, body, dan soul menjadi satu, sejalan, dan kompak, maka dharma terjadilah. Tiga menjadi satu.
Kemudian, gimana caranya untuk mempersatukan mind, body, dan soul? Hati harus dibuka, dan dibuka dengan cara dibersihkan. Banyak jalan menuju Roma, tetapi intinya adalah dengan merasa bahagia. Cara yang paling sederhana adalah cukup dengan memejamkan mata dan memberikan senyuman yang termanis kepada soulmu. Sesungguhnya, cara-cara yang paling sederhana adalah cara-cara yang paling manjur...! Kalau Mr Eddy sendiri pribadi mengajarkan saya sepenggal afirmasi: "Tuhan, Aku, dan saya online." Kata Beliau, kalau sudah rajin afirmasi, dan tidak emosian, (sebab nanti malah bikin karma baru..) kita akan tersinkronisasi.. "Beres deh, tinggal nyanyi saja.." Hehehe..
Sebab, kalau tidak bersatu, mind, body, dan soul kita jalan sendiri-sendiri. Mindnya maunya kesono, soulnya malah pengen kesini.. Pasti rasanya desperate, stress, dan emosian sepanjang jalan. Bukan hanya di kehidupan ini saja, tetapi juga di kehidupan masa depan masih akan bermasalah. Ini namanya karmanya dibungkus dan dibawa pulang.. hehehe. Kata Mr Eddy: "Baru begitu nyatu karma selesai, jadi yang namanya darma. Sempurna hidupnya. Darma tiap turun tugas, tiap turun tugas, dharma dharma dharma, bhakti kepada yang Maha Esa."
Pak Eddy juga berpesan, kalau namanya kita kan sedang bersandiwara di panggung dunia, ya boleh lah pura-pura ada karma sedikit. Kan ceritanya orang, bukan dewa.. hahaha. Yang penting, kita sadari karma yang ditimbulkan dari kebiasaan jelek kita, terus kita kontrol. Sebab asal kita bisa sadari, maka bisa kita kendalikan. Sebab yang belum mengerti kan belum sadar, dan bagi mereka yang belum sadar, ya ngga bisa toh ngebedain karma dan dharma..
Salam Rahayu,
Maaf ya, agak lama meng-update blog ini.. Barusan kembali dari liburan Thanksgiving di Kanada. Juga sempat bertemu dan mendapatkan banyak bimbingan dari sesama murid Pak Eddy yang kebenaran berdomisili di Toronto. (Terimakasih banyak ya, Kak Ira! hehehe)
Tulisan kali ini berusaha untuk menjawab pertanyaan dari Yuu, terimakasih banyak ya untuk pertanyaannya! Pertanyaan pertama adalah mengenai pembahasan karma.
Saya sendiri sempat mendalami Buddhisme selama sekitar empat tahun lebih, dan esensi karma adalah hukum sebat-akibat. Kalau kata Mr Eddy, dunia adalah panggung sandiwara. Sebab terlalu serius ber-akting (hingga lupa kalau sesungguhnya cuma perwayangan saja) akibatnya malah dihukum (dihajar). Ini namanya menimbulkan karma. Sebaiknya kita santai saja, rahayu saja, nrimo saja. Lah, memang kepasrahan kepada kehendak Tuhan merupakan tingkat tertinggi bagi kita kok (lihat AAA, Ala apa adanya). Ketika kita santai, pasrah, dan menikmati bagian permainan kita, maka kita akan menjadi bebas dari karma.
Bukan saja itu, dari pelajaran-pelajaran sinetron-sinetron tersebut, kita mampu menyadari bahwa semua pikiran, perkataan, dan perbuatan kita di setiap saat adalah berkualitas, dan merupakan untuk hal yang terbaik. Di saat itu, karma berubah menjadi dharma. Apakah dharma itu? Dharma merupakan kebenaran, suatu hal mutlak yang tidak bisa dinafikan. Inilah yang disebut pencerahan di dalam Buddhisme, suatu hal yang dicari oleh jutaan bhiksu-bhiksu dan umat-umat ketika mereka duduk bersila dan mengatur nafas mereka (meditasi). Apakah sebenarnya pencerahan itu? Apakah sebenarnya dharma itu? Tidak lain, dan tidak bukan, adalah kebersatuan saya, Aku, dan Tuhan. Ketika mind, body, dan soul menjadi satu, sejalan, dan kompak, maka dharma terjadilah. Tiga menjadi satu.
Kemudian, gimana caranya untuk mempersatukan mind, body, dan soul? Hati harus dibuka, dan dibuka dengan cara dibersihkan. Banyak jalan menuju Roma, tetapi intinya adalah dengan merasa bahagia. Cara yang paling sederhana adalah cukup dengan memejamkan mata dan memberikan senyuman yang termanis kepada soulmu. Sesungguhnya, cara-cara yang paling sederhana adalah cara-cara yang paling manjur...! Kalau Mr Eddy sendiri pribadi mengajarkan saya sepenggal afirmasi: "Tuhan, Aku, dan saya online." Kata Beliau, kalau sudah rajin afirmasi, dan tidak emosian, (sebab nanti malah bikin karma baru..) kita akan tersinkronisasi.. "Beres deh, tinggal nyanyi saja.." Hehehe..
Sebab, kalau tidak bersatu, mind, body, dan soul kita jalan sendiri-sendiri. Mindnya maunya kesono, soulnya malah pengen kesini.. Pasti rasanya desperate, stress, dan emosian sepanjang jalan. Bukan hanya di kehidupan ini saja, tetapi juga di kehidupan masa depan masih akan bermasalah. Ini namanya karmanya dibungkus dan dibawa pulang.. hehehe. Kata Mr Eddy: "Baru begitu nyatu karma selesai, jadi yang namanya darma. Sempurna hidupnya. Darma tiap turun tugas, tiap turun tugas, dharma dharma dharma, bhakti kepada yang Maha Esa."
Pak Eddy juga berpesan, kalau namanya kita kan sedang bersandiwara di panggung dunia, ya boleh lah pura-pura ada karma sedikit. Kan ceritanya orang, bukan dewa.. hahaha. Yang penting, kita sadari karma yang ditimbulkan dari kebiasaan jelek kita, terus kita kontrol. Sebab asal kita bisa sadari, maka bisa kita kendalikan. Sebab yang belum mengerti kan belum sadar, dan bagi mereka yang belum sadar, ya ngga bisa toh ngebedain karma dan dharma..
Salam Rahayu,
Subscribe to:
Posts (Atom)