Hai para pembaca yang kuhormati dan kucintai..
Maaf ya, agak lama meng-update blog ini.. Barusan kembali dari liburan Thanksgiving di Kanada. Juga sempat bertemu dan mendapatkan banyak bimbingan dari sesama murid Pak Eddy yang kebenaran berdomisili di Toronto. (Terimakasih banyak ya, Kak Ira! hehehe)
Tulisan kali ini berusaha untuk menjawab pertanyaan dari Yuu, terimakasih banyak ya untuk pertanyaannya! Pertanyaan pertama adalah mengenai pembahasan karma.
Saya sendiri sempat mendalami Buddhisme selama sekitar empat tahun lebih, dan esensi karma adalah hukum sebat-akibat. Kalau kata Mr Eddy, dunia adalah panggung sandiwara. Sebab terlalu serius ber-akting (hingga lupa kalau sesungguhnya cuma perwayangan saja) akibatnya malah dihukum (dihajar). Ini namanya menimbulkan karma. Sebaiknya kita santai saja, rahayu saja, nrimo saja. Lah, memang kepasrahan kepada kehendak Tuhan merupakan tingkat tertinggi bagi kita kok (lihat AAA, Ala apa adanya). Ketika kita santai, pasrah, dan menikmati bagian permainan kita, maka kita akan menjadi bebas dari karma.
Bukan saja itu, dari pelajaran-pelajaran sinetron-sinetron tersebut, kita mampu menyadari bahwa semua pikiran, perkataan, dan perbuatan kita di setiap saat adalah berkualitas, dan merupakan untuk hal yang terbaik. Di saat itu, karma berubah menjadi dharma. Apakah dharma itu? Dharma merupakan kebenaran, suatu hal mutlak yang tidak bisa dinafikan. Inilah yang disebut pencerahan di dalam Buddhisme, suatu hal yang dicari oleh jutaan bhiksu-bhiksu dan umat-umat ketika mereka duduk bersila dan mengatur nafas mereka (meditasi). Apakah sebenarnya pencerahan itu? Apakah sebenarnya dharma itu? Tidak lain, dan tidak bukan, adalah kebersatuan saya, Aku, dan Tuhan. Ketika mind, body, dan soul menjadi satu, sejalan, dan kompak, maka dharma terjadilah. Tiga menjadi satu.
Kemudian, gimana caranya untuk mempersatukan mind, body, dan soul? Hati harus dibuka, dan dibuka dengan cara dibersihkan. Banyak jalan menuju Roma, tetapi intinya adalah dengan merasa bahagia. Cara yang paling sederhana adalah cukup dengan memejamkan mata dan memberikan senyuman yang termanis kepada soulmu. Sesungguhnya, cara-cara yang paling sederhana adalah cara-cara yang paling manjur...! Kalau Mr Eddy sendiri pribadi mengajarkan saya sepenggal afirmasi: "Tuhan, Aku, dan saya online." Kata Beliau, kalau sudah rajin afirmasi, dan tidak emosian, (sebab nanti malah bikin karma baru..) kita akan tersinkronisasi.. "Beres deh, tinggal nyanyi saja.." Hehehe..
Sebab, kalau tidak bersatu, mind, body, dan soul kita jalan sendiri-sendiri. Mindnya maunya kesono, soulnya malah pengen kesini.. Pasti rasanya desperate, stress, dan emosian sepanjang jalan. Bukan hanya di kehidupan ini saja, tetapi juga di kehidupan masa depan masih akan bermasalah. Ini namanya karmanya dibungkus dan dibawa pulang.. hehehe. Kata Mr Eddy: "Baru begitu nyatu karma
selesai, jadi yang namanya darma.
Sempurna hidupnya. Darma tiap turun tugas, tiap turun tugas, dharma
dharma dharma, bhakti kepada yang Maha Esa."
Pak Eddy juga berpesan, kalau namanya kita kan sedang bersandiwara di panggung dunia, ya boleh lah pura-pura ada karma sedikit. Kan ceritanya orang, bukan dewa.. hahaha. Yang penting, kita sadari karma yang ditimbulkan dari kebiasaan jelek kita, terus kita kontrol. Sebab asal kita bisa sadari, maka bisa kita kendalikan. Sebab yang belum mengerti kan belum sadar, dan bagi mereka yang belum sadar, ya ngga bisa toh ngebedain karma dan dharma..
Salam Rahayu,
Blog ini didedikasikan kepada Edhaka alias Mr BJ Eddy Soetyono, grand master dan guru besar dalam ilmu kehidupan.
Saturday, November 29, 2014
Sunday, November 16, 2014
The Tale of Humankind
Saya masih teringat cerita klasik dari Mr Eddy..
Konon katanya, alur perjalanan
hidup kita itu mulai dari debu à tumbuhan à binatang à peri à manusia (yang akhirnya
kembali ke debu). Manusia pun memiliki tahapan masing-masing; kita mulai dari
yang keperibinatangan, kemudian menjadi keorang-orangan, sampai akhirnya lulus
menjadi seorang manusia yang memiliki welas asih.
Kenapa kita mulai
dari debu? Supaya kita belajar memiliki kemerdekaan yang tanpa batas. Kita
belajar untuk membebaskan diri dari segala belenggu, dan supaya kita ingat
selalu bahwa kita, dalam wujud atau tahapan apapun, selalu memiliki kemerdekaan
yang tanpa batas: Kita bebas melakukan apapun yang kita mau. Belenggu-belenggu
itu hanyalah khayalan dan ketakutan kita saja. Kenapa? Sebab sebagai debu, kita bebas keliling dunia. Mau masuk ke hutan kek, mau masuk ke mata
orang kek, itulah ‘pekerjaan’ sebuah debu.
Kemudian,
tatananya sebagai berikut:
-
Tumbuhan:
belajar untuk pasif, tetapi produktif.
-
Hewan/binatang:
belajar untuk dinamis dan produktif.
Mari kita
bicarakan lebih lanjut mengenai hewan: kita ambil contoh ayam kampung. Jika
pagi-pagi ayam kampung dilepas dan dibiarkan sendiri saja, se-ekor ayam kampung
akan mampu membuat perut mereka kenyang sepanjang hari. Sebab mereka tahu
dimana mereka bisa memperoleh makanan mereka – mereka memiliki sebuah ‘survival
instinct’ untuk bertahan hidup dan berjuang. Kita-kita yang sudah menjadi
minimal seseorang orang telah mewarisi ‘survival instinct’ tersebut, untuk
bertahan hidup, berjuang, dan membuat perut kita kenyang. Masa kita kalah sama
seekor ayam jantan kampung dan malas-malasan saja?
Sang peri tidak punya cangkang (casing). Jadinya mereka hanya mengambil wujud sebagai
sebuah energi (roh) seperti malaikat-malaikat yang diketahui oleh khalayak
umum. Walaupun sang peri sangatlah produktif dan rajin berkarya, sampai rela jungkir balik dan berdarah-darah untuk
melindungi orang-orang dan para manusia, sang peri tetaplah pasif, ia tidak gembar-gembor, apalagi
mengeluh sedikit pun. Ia tetap mempertahankan kualitas low-profilenya.
Lalu akhirnya
peri itu memohon-mohon kepada Tuhan, supaya bisa diberi sebuah cangkang
(casing) yang maha-dasyhat dan luarbiasa. Tidak lain dan tidak bukan ialah
cangkang kita sendiri, tubuh orang (manusia) ini. Sang peri pun ingin menjalani
kehidupan sebagai seorang orang (dan manusia) supaya bisa belajar daripada
kesulitan dan jerih payah yang kita alami selama ini. Inilah yang kalian semua
telah lalui, para pembaca yang tercinta, untuk menjalani kehidupan kalian yang
sekarang ini. :)
Seperti layaknya debu merupakan bagian dari bintang di surga dan di semesta, ruh kita merupakan bagian dari peri dan dari diri Tuhan... :)
Salam Rahayu,
Sunday, November 9, 2014
Motivasi
Saya suka bertanya kepada orang-orang disekitar saya, apa yang membuat mereka bangun dari tidur mereka setiap pagi. Apa hal itu yang memberikan mereka tenaga, semangat, dan motivasi; untuk bangun tidur dan memulai hari mereka, untuk beranjak dan melaksanakan tanggungjawab mereka. Jawabannya bermacam-macam, tetapi selalu tidak ada yang begitu memuaskan. Ada yang menjawab: "Tuhan", "Uang", "Semesta", "Roh Kudus", "Cinta", dll.
Saya tidak tahu, apakah pembaca tercinta pernah merasakan apa yang saya (dan saya rasa banyak manusia lainnya) rasakan: Rasa hilangnya motivasi. Lucunya, terkadang saya begitu bersemangat karena banyak hal-hal yang saya harus kerjakan, dan saya memang ingin mengerjakan hal-hal tersebut. Tetapi, rasanya ada inersia yang begitu besar, jadi akhirnya saya malah uring-uringan diatas ranjang kendari mengerjakan tugas-tugas tersebut.. Hehehe. Atau juga, pernah rasanya saya berkontemplasi, jika saya sudah memiliki segala harta dan tahta di dunia ini. Apapun yang bisa saya lakukan, sudah saya lakukan. Rasanya tidak mungkin ada yang saya tidak mengerti. Saat membayangkan hal tersebut, rasa hampa menerpa diri saya. Kekosongan. Toh nanti akan mati dan lahir kembali. Walaupun pelajaran-pelajaran disimpan, tetapi kan waktu tidak linear di alam sana. Gimana caranya kita tahu kalau kita sudah berkembang?
Jadi, alkisah suatu hari saya pernah bertanya kepada Mr Eddy. "Pak Eddy, kenapa kita harus rajin terus? Kenapa kita nggak boleh males-malesan?"
Ini jawaban beliau:
"Boleh manja, boleh males, tetapi harus siapkan dirimu.. Sebab lebih baik kita sengsara: belajar dan bekerja keras sebentar untuk ueeeenak selama-lamanya, (quality time and lifestyle) bukan enak sebentar (this is what we coin instant lifestyle) sengsara selamanya. Challenge yourself, sebentar.. belajar.. ehhh pencerahan. Hahaha. Mapan, selamanya enak!
Soalnya kalo lo instant lifestyle, belom apa-apa udah ga punya apa-apa. Jangan kayak nobita; mumpung doraemon masih hidup manfaatkan sebaik-baiknya! Ntar pas dia udah ga ada bingung deh hahaha."
Ya.. Ada waktunya malas, ada waktunya rajin, sepertinya.. dan Indah pada waktunya, dan udah didesign dari sananya. Ternyata dengan menyadari hal ini, kita tahu bahwa hidup bukanlah suatu maraton panjang, melainkan kehidupan lebih mirip dengan lari cepat (sprint) dimana kita berjuang keras selama beberapa waktu, mempersiapkan diri, kemudian istirahat.. Nanti kalau perlu lari lagi, ya lari lagi.. Tahu-tahu, sudah siap, dan sudah enak selama-lamanya, tinggal dinikmati saja selama-lamanya.. Hehehe.
Kayaknya kalau saya ingat kata-kata Mr Eddy, motivasi saya pun langsung naik kembali deh.. Hehehe
Salam Rahayu,
Saya tidak tahu, apakah pembaca tercinta pernah merasakan apa yang saya (dan saya rasa banyak manusia lainnya) rasakan: Rasa hilangnya motivasi. Lucunya, terkadang saya begitu bersemangat karena banyak hal-hal yang saya harus kerjakan, dan saya memang ingin mengerjakan hal-hal tersebut. Tetapi, rasanya ada inersia yang begitu besar, jadi akhirnya saya malah uring-uringan diatas ranjang kendari mengerjakan tugas-tugas tersebut.. Hehehe. Atau juga, pernah rasanya saya berkontemplasi, jika saya sudah memiliki segala harta dan tahta di dunia ini. Apapun yang bisa saya lakukan, sudah saya lakukan. Rasanya tidak mungkin ada yang saya tidak mengerti. Saat membayangkan hal tersebut, rasa hampa menerpa diri saya. Kekosongan. Toh nanti akan mati dan lahir kembali. Walaupun pelajaran-pelajaran disimpan, tetapi kan waktu tidak linear di alam sana. Gimana caranya kita tahu kalau kita sudah berkembang?
Jadi, alkisah suatu hari saya pernah bertanya kepada Mr Eddy. "Pak Eddy, kenapa kita harus rajin terus? Kenapa kita nggak boleh males-malesan?"
Ini jawaban beliau:
"Boleh manja, boleh males, tetapi harus siapkan dirimu.. Sebab lebih baik kita sengsara: belajar dan bekerja keras sebentar untuk ueeeenak selama-lamanya, (quality time and lifestyle) bukan enak sebentar (this is what we coin instant lifestyle) sengsara selamanya. Challenge yourself, sebentar.. belajar.. ehhh pencerahan. Hahaha. Mapan, selamanya enak!
Soalnya kalo lo instant lifestyle, belom apa-apa udah ga punya apa-apa. Jangan kayak nobita; mumpung doraemon masih hidup manfaatkan sebaik-baiknya! Ntar pas dia udah ga ada bingung deh hahaha."
Ya.. Ada waktunya malas, ada waktunya rajin, sepertinya.. dan Indah pada waktunya, dan udah didesign dari sananya. Ternyata dengan menyadari hal ini, kita tahu bahwa hidup bukanlah suatu maraton panjang, melainkan kehidupan lebih mirip dengan lari cepat (sprint) dimana kita berjuang keras selama beberapa waktu, mempersiapkan diri, kemudian istirahat.. Nanti kalau perlu lari lagi, ya lari lagi.. Tahu-tahu, sudah siap, dan sudah enak selama-lamanya, tinggal dinikmati saja selama-lamanya.. Hehehe.
Kayaknya kalau saya ingat kata-kata Mr Eddy, motivasi saya pun langsung naik kembali deh.. Hehehe
Salam Rahayu,
Sunday, November 2, 2014
Wanita
Sebagai seorang lelaki, saya tak dapat menafikan bahwa salah satu hal yang memainkan pernanan besar dalam hidup saya adalah wanita. Jujur saja, energi atraksi kepada wanita merupakan suatu motivasi besar untuk saya, jadinya tentu saja saya juga sering pusing soal wanita.. hehehe.
Jadinya benar-benar beruntung bisa bertemu Mr Eddy. Konon katanya, Mr Eddy tahu kalau terkadang saya suka galau karena wanita. Beliau kerap ngeledekin saya tiap kali ketemu: "Hayoo, cewek mana yang bikin kamu pusing niiih.. Hehehehe..."
Saya terus biasanya cuma tertawa, membalas menjawab dengan bilang: "Ah, Bapak paling tahu aja.. hehehe.." dan mulai bercerita. Sepertinya, naturenya Mr Eddy adalah seorang lelaki charmer dan berwibawa, makanya tidak heran kebanyakan muridnya Mr Eddy adalah wanita. Makanya, saya pribadi juga merasakan bahwa Mr Eddy, sebagai sesama lelaki, pasti lumayan suka sharing ke saya mengenai soal wanita. Mr Eddy bukan hanya life dan spiritual mentorku, tetapi juga love life mentor ;) hehehe..
Kenapa tiba-tiba kepikiran ini? Jadi sesungguhnya saya memang lagi sedikit pusing soal wanita, dan kebetulan tadi abis ngegym saya ke kantin dan makan sarapan saya. Disana, ketemu seorang teman yang agak senior (dan lebih dewasa), terus jadi curhat begitu saja. Hal-hal yang dia share mengenai wanita benar-benar mengingatkan saya mengenai sharing-sharing dari Mr Eddy, sampai saya ketawa sendiri: Jangan-jangan emang Mr Eddy kali ya yang nyuruh dia share ke saya. Hehehe.. Makasih Pak..
Apa aja yang di-share mengenai wanita sama dia? Atau sama Mr Eddy? Wah, banyak banget itu, kayaknya kalau ditulis dan diurai semua satu buku ngga cukup deh. Hehe. Tapi kita bisa mulai bahas pelan-pelan, dan tentu saja kita mulai dari kata-kata mutiara Mr Eddy!
"Kalau kamu tulus, you have nothing to lose."
Otak rasional saya sadar, bahwa kebanyakan masalah saya dengan wanita berasal dari diri saya sendiri. Saya terkadang berpikir terlalu banyak, kuatir dan galau nggak jelas sendiri, kalau wanita objek saya tidak berperilaku sesuai dengan yang saya harapkan. Saya juga mudah takut, takut kehilangan dia. Misalnya: Saya tahu kalau saya tidak boleh terlalu hangat kepadanya, karena nanti dia tidak akan menghargai aku. Tetapi, saya takut, kalau saya lepas maka dia tidak akan kembali. Sebenarnya, kalau saya tulus mencintai dia, saya hanya ingin yang terbaik untuk dirinya. Apabila yang terbaik adalah melepasnya, maka saya akan berani untuk melepasnya. Yang penting kan saya tulus, kalau dia pergi dan tidak kembali, dan itu adalah yang terbaik untuknya, I have nothing to lose. Saya akan cari lagi.
"She may be the one, but not the only one."
Kata-kata emas dari Mr Eddy ini menjelaskan mengapa kita tidak boleh terlalu attach kepada orang yang kita cintai. Mencintai adalah melepas. Jika dia kembali, dan dia tetap setia disisimu, maka dia adalah milikmu. Jika dia pergi, ya cari lagi. She may be the one, but not the only one.
"Mesti belajar mencintai. Mencintai tuh bukan komitmen atau ke attach sama orang lain. Kamu ga perlu orang lain untuk melengkapi kamu. Kamu cuma berbagi kelengkapan sama orang lain itu kok. Kamu komit ke hati kamu, ke diri kamu sendiri, kalau kamu tuh mencintai dirinya. Terserah dia mau ngapain, kamu ga bakal kehilangan dia. Kamu ga bakal sakit hati, ga bakal tersinggung. Soalnya begitu dia mau ngapa2in juga, kamu sadar, dan kamu yakin, kalau kamu hanya bertanggung jawab dan berhadapan pada dirimu sendiri. Itulah yang disebut cinta, komitmen ke diri kamu sendiri. Cinta ini ga bisa di break siapa2. Selain sama Tuhan."
Belajar mencintai.. Alangkah indahnya dunia ini kalau semua orang bisa memiliki mindset seperti ini. Komitmen kepada diri sendiri, berarti kita mesti selalu mulai dari diri kita sendiri. Sungguh ironis, tetapi dengan menjadi egois, narsis, dan mencintai diri sendiri terlebih dahulu, maka kita akan mampu mencintai orang lain lebih baik. Dan dengan mencintai, dengan saling berbagi kelengkapan dan kesempurnaan kita masing-masing, maka kita mencintai Tuhan. Kedengarannya aneh? Ini sudah dibahas di blog post: Aku Cinta Kamu lho.. hehehe :)
Baiklah, hari ini sampai segini dulu saja, kapan-kapan bisa dilanjutkan lagi pembahasan ini. Terima kasih ya, wahai semesta, karena dengan setiap hambatan, rintangan, dan tantangan, saya punya kesempatan untuk belajar menjadi pecinta yang lebih baik..!
Salam Rahayu,
Jadinya benar-benar beruntung bisa bertemu Mr Eddy. Konon katanya, Mr Eddy tahu kalau terkadang saya suka galau karena wanita. Beliau kerap ngeledekin saya tiap kali ketemu: "Hayoo, cewek mana yang bikin kamu pusing niiih.. Hehehehe..."
Saya terus biasanya cuma tertawa, membalas menjawab dengan bilang: "Ah, Bapak paling tahu aja.. hehehe.." dan mulai bercerita. Sepertinya, naturenya Mr Eddy adalah seorang lelaki charmer dan berwibawa, makanya tidak heran kebanyakan muridnya Mr Eddy adalah wanita. Makanya, saya pribadi juga merasakan bahwa Mr Eddy, sebagai sesama lelaki, pasti lumayan suka sharing ke saya mengenai soal wanita. Mr Eddy bukan hanya life dan spiritual mentorku, tetapi juga love life mentor ;) hehehe..
Kenapa tiba-tiba kepikiran ini? Jadi sesungguhnya saya memang lagi sedikit pusing soal wanita, dan kebetulan tadi abis ngegym saya ke kantin dan makan sarapan saya. Disana, ketemu seorang teman yang agak senior (dan lebih dewasa), terus jadi curhat begitu saja. Hal-hal yang dia share mengenai wanita benar-benar mengingatkan saya mengenai sharing-sharing dari Mr Eddy, sampai saya ketawa sendiri: Jangan-jangan emang Mr Eddy kali ya yang nyuruh dia share ke saya. Hehehe.. Makasih Pak..
Apa aja yang di-share mengenai wanita sama dia? Atau sama Mr Eddy? Wah, banyak banget itu, kayaknya kalau ditulis dan diurai semua satu buku ngga cukup deh. Hehe. Tapi kita bisa mulai bahas pelan-pelan, dan tentu saja kita mulai dari kata-kata mutiara Mr Eddy!
"Kalau kamu tulus, you have nothing to lose."
Otak rasional saya sadar, bahwa kebanyakan masalah saya dengan wanita berasal dari diri saya sendiri. Saya terkadang berpikir terlalu banyak, kuatir dan galau nggak jelas sendiri, kalau wanita objek saya tidak berperilaku sesuai dengan yang saya harapkan. Saya juga mudah takut, takut kehilangan dia. Misalnya: Saya tahu kalau saya tidak boleh terlalu hangat kepadanya, karena nanti dia tidak akan menghargai aku. Tetapi, saya takut, kalau saya lepas maka dia tidak akan kembali. Sebenarnya, kalau saya tulus mencintai dia, saya hanya ingin yang terbaik untuk dirinya. Apabila yang terbaik adalah melepasnya, maka saya akan berani untuk melepasnya. Yang penting kan saya tulus, kalau dia pergi dan tidak kembali, dan itu adalah yang terbaik untuknya, I have nothing to lose. Saya akan cari lagi.
"She may be the one, but not the only one."
Kata-kata emas dari Mr Eddy ini menjelaskan mengapa kita tidak boleh terlalu attach kepada orang yang kita cintai. Mencintai adalah melepas. Jika dia kembali, dan dia tetap setia disisimu, maka dia adalah milikmu. Jika dia pergi, ya cari lagi. She may be the one, but not the only one.
"Mesti belajar mencintai. Mencintai tuh bukan komitmen atau ke attach sama orang lain. Kamu ga perlu orang lain untuk melengkapi kamu. Kamu cuma berbagi kelengkapan sama orang lain itu kok. Kamu komit ke hati kamu, ke diri kamu sendiri, kalau kamu tuh mencintai dirinya. Terserah dia mau ngapain, kamu ga bakal kehilangan dia. Kamu ga bakal sakit hati, ga bakal tersinggung. Soalnya begitu dia mau ngapa2in juga, kamu sadar, dan kamu yakin, kalau kamu hanya bertanggung jawab dan berhadapan pada dirimu sendiri. Itulah yang disebut cinta, komitmen ke diri kamu sendiri. Cinta ini ga bisa di break siapa2. Selain sama Tuhan."
Belajar mencintai.. Alangkah indahnya dunia ini kalau semua orang bisa memiliki mindset seperti ini. Komitmen kepada diri sendiri, berarti kita mesti selalu mulai dari diri kita sendiri. Sungguh ironis, tetapi dengan menjadi egois, narsis, dan mencintai diri sendiri terlebih dahulu, maka kita akan mampu mencintai orang lain lebih baik. Dan dengan mencintai, dengan saling berbagi kelengkapan dan kesempurnaan kita masing-masing, maka kita mencintai Tuhan. Kedengarannya aneh? Ini sudah dibahas di blog post: Aku Cinta Kamu lho.. hehehe :)
Baiklah, hari ini sampai segini dulu saja, kapan-kapan bisa dilanjutkan lagi pembahasan ini. Terima kasih ya, wahai semesta, karena dengan setiap hambatan, rintangan, dan tantangan, saya punya kesempatan untuk belajar menjadi pecinta yang lebih baik..!
Salam Rahayu,
Sunday, October 26, 2014
I'm Fine, as Always.. (dan Doa)
Para pembaca yang rajin mengikuti blog saya ini tentu akan sadar bahwa kebahagiaan adalah tema sentral blog ini. Kebahagiaan, bagaimana caranya bahagia, the pursuit of happiness, bukannya hal-hal inilah yang harus kita utamakan? Kalau tidak bahagia dulu, buat apa hidup?
Saya ingat sekali, saat pertama kali bertemu Mr Eddy, Beliau bertanya ke saya:
Master: "Mas Tommy, kalau nanti kamu di Amerika sana, orang lain bertanya: 'How are you?' Bagaimanakah kamu akan menjawabnya?"
T: "I'm fine, thank you. And you?".. "Begitu, Pak.."
Master: "Gini, mas. Tambahkan fine, as always. Jadinya 'I'm fine, as always.' ".
Ya, dengan menjawab 'fine, as always', kita afirmasi ke diri kita sendiri bahwa kita selalu baik-baik saja, walaupun dunia lagi jungkir balik dan hati kita lagi berdarah darah. Sambil tersenyum manis kita lalui hidup kita ini.. Kata Mr Eddy, dengan mengucapkan kata-kata ini aja, stamina kita langsung naik. Keringat dingin pun menjadi hangat kembali.. hehehe..
Konon katanya ini adalah sikap, ini adalah attitude milik manusia-manusia baru, modern, zaman sekarang. Yang katanya berdoanya sudah bukan curhat kepada Tuhan:
"Kalo dulu: 'Tuhan, aku punya masalah banyak nih, gimana nih..' Kalau sekarang, kita bilang: 'Heyy masalah, gue gatakut, gue punya Tuhan!!' heee.. beda kan! hehehe."
Sesungguhnya attitude pantang takut dan selalu kuat ini adalah suatu attitude yang paling bermanfaat.. Saya sendiri pernah mengalaminya: Dikala diri sedang sedih atau stress, saya berusaha untuk ketemu dengan teman-teman. Mereka menanyakan apa kabar, dan jika saya menjawab "Fine as always" sambil tersenyum lebar-lebar (walaupun dalam hati rasanya kepiningin menangis atau menggorok leher teman tersebut), tiba-tiba rasanya langsung enakan. Galau yang menggunung itu rasanya seperti garam yang dilarutkan oleh air laut. Kenapa ya?
Sebenarnya saya pernah baca sebuah penelitian psikologi mengenai efek perbuatan terhadap tingkat emosi. Para peneliti tersebut berkesimpulan bahwa bukan hanya emosi mempengaruhi perilaku, tetapi sebaliknya, apa yang kita lakukan akan mempengaruhi emosi kita. Apa implikasinya? Kalau kita berbuat baik atau bertingkah senang, bahagia, dan rahayu, diri kita di dalam juga akan senang. Memang, pertama-tama rasanya agak 'terpaksa', tetapi lama-kelamaan eeeh malah fine beneran.. hehe.
Wah, ternyata ini toh, maksud Mr Eddy, 'fine as always'.. Mungkin ini juga pelajaran buat saya, supaya mengamini untuk punya cukup iman, dan dengan iman kita bisa menciptakan kebahagiaan. Semua cuma dengan satu kalimat singkat dan sederhana saja.. "I'm fine, as always.."
Baik, Pak. I'm fine, as always.. Terimakasih yaa :)
Salam Rahayu,
Saya ingat sekali, saat pertama kali bertemu Mr Eddy, Beliau bertanya ke saya:
Master: "Mas Tommy, kalau nanti kamu di Amerika sana, orang lain bertanya: 'How are you?' Bagaimanakah kamu akan menjawabnya?"
T: "I'm fine, thank you. And you?".. "Begitu, Pak.."
Master: "Gini, mas. Tambahkan fine, as always. Jadinya 'I'm fine, as always.' ".
Ya, dengan menjawab 'fine, as always', kita afirmasi ke diri kita sendiri bahwa kita selalu baik-baik saja, walaupun dunia lagi jungkir balik dan hati kita lagi berdarah darah. Sambil tersenyum manis kita lalui hidup kita ini.. Kata Mr Eddy, dengan mengucapkan kata-kata ini aja, stamina kita langsung naik. Keringat dingin pun menjadi hangat kembali.. hehehe..
Konon katanya ini adalah sikap, ini adalah attitude milik manusia-manusia baru, modern, zaman sekarang. Yang katanya berdoanya sudah bukan curhat kepada Tuhan:
"Kalo dulu: 'Tuhan, aku punya masalah banyak nih, gimana nih..' Kalau sekarang, kita bilang: 'Heyy masalah, gue gatakut, gue punya Tuhan!!' heee.. beda kan! hehehe."
Sesungguhnya attitude pantang takut dan selalu kuat ini adalah suatu attitude yang paling bermanfaat.. Saya sendiri pernah mengalaminya: Dikala diri sedang sedih atau stress, saya berusaha untuk ketemu dengan teman-teman. Mereka menanyakan apa kabar, dan jika saya menjawab "Fine as always" sambil tersenyum lebar-lebar (walaupun dalam hati rasanya kepiningin menangis atau menggorok leher teman tersebut), tiba-tiba rasanya langsung enakan. Galau yang menggunung itu rasanya seperti garam yang dilarutkan oleh air laut. Kenapa ya?
Sebenarnya saya pernah baca sebuah penelitian psikologi mengenai efek perbuatan terhadap tingkat emosi. Para peneliti tersebut berkesimpulan bahwa bukan hanya emosi mempengaruhi perilaku, tetapi sebaliknya, apa yang kita lakukan akan mempengaruhi emosi kita. Apa implikasinya? Kalau kita berbuat baik atau bertingkah senang, bahagia, dan rahayu, diri kita di dalam juga akan senang. Memang, pertama-tama rasanya agak 'terpaksa', tetapi lama-kelamaan eeeh malah fine beneran.. hehe.
Wah, ternyata ini toh, maksud Mr Eddy, 'fine as always'.. Mungkin ini juga pelajaran buat saya, supaya mengamini untuk punya cukup iman, dan dengan iman kita bisa menciptakan kebahagiaan. Semua cuma dengan satu kalimat singkat dan sederhana saja.. "I'm fine, as always.."
Baik, Pak. I'm fine, as always.. Terimakasih yaa :)
Salam Rahayu,
Sunday, October 19, 2014
Aku Cinta Kamu
Ayn Rand, seorang pengarang terkenal, memiliki sepenggal kalimat indah di dalam bukunya, The Fountainhead. Kalimat itu adalah: 'To say "I love you" one must know first how to say "I"."
Bisa diterjemahkan sebagai berikut: "Sebelum mengucapkan 'aku cinta kamu', seseorang harus tahu bagaimana cara mengucapkan 'aku'.
Artinya apa? Untuk mencapai cinta sejati, sebelum kita bisa mencintai orang lain, alangkah baiknya jika kita belajar mencintai diri kita sendiri dulu. Toh, ketika kita merubah diri kita, kita sedang mengubah dunia. Hal terbaik yang kita bisa lakukan untuk orang-orang di sekitar kita adalah memperbaiki diri kita, sebab dengan menjadi lebih baik, dunia akan memiliki satu lebih sedikit orang jahat yang harus mereka hadapi. Pada dasarnya, semua perbuatan adalah perbuatan yang mulia dan perbuatan yang egois, jadinya, mengapa kita tidak menolong diri kita sendiri, untuk menolong orang lain juga? :)
Ini kata-kata Mr Eddy:
"Cintailah tiga
hal terlebih dahulu:
- Cintailah dirimu sendiri: Ciptaan Tuhan yang terdekat dari dirimu. Kamu bukan manusia sembarangan,
ciptaan Tuhan. Inilah cinta yang
tanpa batas
- Kemudian, cintailah sebab kamu
dilahirkan di dunia. Orangtuamu, itulah cinta yang sangat tulus.
- Dengan mencintai diriku, aku belajar
mencintai orang lain. Ini barulah cinta sejati. Jadi kamu harus mencintai
dirimu dulu, baru bisa di share kepada orang lain, yang layak mendapatkan
cinta sejatiku.."
Tentang mencintai diri sendiri:
"Aku belajar mencintai
diriku. Setelah berkomitmen baru dilihat. Aku komit ke diriku sendiri.Cinta itu segala-galanya. Cinta itu everything. I love my
school, education pun selesai dengan cepat. Aku cinta kerjaanku, eh duit ngalir
kayak kencing. Cinta itu semangat yang tidak bisa dipatahkan, karena
mencintai dirimu adalah mencintai penciptamu! Body, mind, soul, ciptaan Tuhan!
Dengan mencintai dirimu kamu mencintai Tuhan. Tanpa batas."
Kemudian, tentang mencintai orangtua, Mr Eddy sendiri percaya bahwa surga berada di telapak kaki ibunya.. Beliau saja sampai sujud, menyembah, sungkem terhadap ibunya, mohon ampun dan minta restu beliau. Sebegitunyalah rasa cinta dan hormat Mr Eddy kepada ibundanya.
Terus setelah beres tiga tahap cinta itu..
"Aku ingin hidup diantara
cinta yang sejati. Perpaduan dua cinta yang sejati itu. Ga takut putus cinta..
karena masih banyak yang layak mendapatkan cinta sejati dari diriku sendiri.."
Saya tidak ingin terlalu banyak menginterpretasikan kata-kata Beliau, sebab wisdom yang muncul dari kata-kata beliau ini memang sudah sangat jelas, tetapi izinkanlah saya untuk mengelaborasi tiga cinta tersebut. Tiga tahapan cinta ini sangat mirip dengan sekolah: Mencintai diri sendiri layaknya sarjana S1, mencintai orangtua layaknya master S2, dan kalau begitu mencintai orang lain adalah doktor, atau S3. Apakah itu mungkin, atau apakah itu sehat, bagi kita untuk belajar materi S3 sebelum kita mulai belajar materi S1 atau S2? Apakah kita nggak akan mengerang-erang kesulitan dan kesakitan? Sayangnya di dunia ini kebanyakan orang mulai dari menjadi "doktor cinta" padahal sarjananya aja belum beres. Makanya nggak aneh kan tingginya frekuensi tangis darah atas nama cinta? Andai mereka tahu lebih baik.. hehehe ;)
Salam Rahayu,
Sunday, October 12, 2014
Kolam Iman dan Langit-langit Kepercayaan
Saya barusan menonton video inspiratif dari Vishesh Lakshmi, pendiri Mindvalley.com, sebuah perusahaan yang memiliki misi untuk meninggikan spiritualitas umat manusia melalui pelatihan-pelatihan dan seminar spiritualitas. Vishesh menceritakan model-model kepercayaan dia, dan salah satu dari empat model tersebut adalah kolam iman (faith reservoir) dan langit-langit kepercayaan (belief ceilings).
Inti dari kolam iman adalah suatu konsep, atau kesadaran, dimana faith atau iman kita merupakan sebuah otot yang dapat dilatih. Jika Anda ingin menang tinju melawan Mike Tyson, maka Anda harus melatih otot-otot Anda dan berlatih bertinju, bukan? Logika yang sama juga berlaku; kalau Anda ingin mewujudkan impian terbesar Anda, maka Anda harus perlahan-lahan melatih faith Anda supaya makin lama Anda makin percaya, dan lama-kelamaan Anda mampu mewujudkan impian-impian terbesar Anda.
Ini mengingatkan saya kepada ajaran Mr Eddy yang saya intip dari archive KKAS yang lampau. Menurut beliau, untuk mewujudkan sesuatu, kita harus tahu kenapa kita mau mewujudkan impian tersebut (aspek why dari impian tersebut) ketimbang memusingkan bagaimana dan kapan kita bisa mewujudkan impian tersebut (aspek how and when dari impian tersebut). Begitu kita sudah tahu apa yang mau kita capai, kita cari tahu dan tanya dalam-dalam mengapa kita mau mencapai impian tersebut. Sudah begitu, visualisasikanlah dan lakukanlah afirmasi bahwa impian itu sudah tercapai, dan ucapkanlah terima kasih dan tingkatkan rasa haru dan bersyukur. Mulai dari memanifestasikan hal-hal kecil, ingatlah baik-baik, dan saat rasa percaya diri dan kolam iman bertambah dalam maka wujudkanlah hal-hal yang lebih besar.
Tetapi, ketika kita berusaha sebisa mungkin, sekuat tenaga dalam percaya dan mewujudkan visi kita, kita suatu saat akan tersangkut di "belief ceilings" atau langit-langit kepercayaan kita. Apa itu belief ceilings? Menurut Vishesh, belief ceilings merupakan kumpulan dari kepercayaan-kepercayaan irasional kita, yang tertanam di dalam pikiran bawah sadar kita, dari omongan-omongan orang-orang di sekitar kita, baik ketika kita kecil atau ketika sudah besar. Kepercayaan-kepercayaan irasional inilah yang menahan kita untuk mewujudkan impian terbesar kita. Misalnya, ada beberapa wanita yang percaya bahwa karena mereka hanyalah seorang wanita, mereka tidak bisa menjadi seorang pebisnis sukses. Atau karena mereka berasal dari negara yang miskin, atau berlatar belakang etnis tertentu, makanya tidak bisa melakukan ini dan itu.
Hancurkanlah langit-langit itu. Hancurkanlah dengan sekuat tenagamu. Hancurkanlah dengan segenap jiwa dan ragamu. Sebab, kita merupakan utusan Tuhan, Tuhan hidup di dalam diri kita. Apakah yang tidak mungkin kalau Tuhan merupakan kita, dan kita merupakan Tuhan?
Kata Vishesh, cara terbaik menghancurkan langit-langit tersebut adalah dengan membaca banyak biografi dan kisah-kisah inspiratif tentang orang sukses. Orang-orang tersebut telah melampaui segala hambatan dan rintangan, dan telah menghancurkan langit-langit tersebut, seperti Steve Jobs, Sam Walton, dan sebagainya. Ketika kita menyadari bahwa mereka bisa, kita juga sadar, dan perlahan-lahan juga percaya, bahwa kita JUGA bisa. Tidak ada lagi alasan kenapa kita tidak bisa.
Saat Vishesh menghantam saya dengan pencerahan ini, saya sadar dan teringat kembali salah satu hal paling penting yang saya pelajari dalam pertemuan saya dengan Mr Eddy: Mr Eddy merupakan model saya, merupakan inspirasi saya, Beliau mengajari saya puncak dari puncak kesuksesan dan bagaimana cara hidup berkualitas. Mr Eddy mendirikan lapangan terbang sebelum beliau mulai kuliah. Beliau lulus S1 hanya dalam 1 1/2 tahun, S2 dalam 9 bulan, dan S3 (Doktor Filosofi) dalam 3 bulan dari Boston University. Beliau memimpin ratusan perusahaan di dunia (saat beliau berada di Amerika Serikat) dan suksesnya perusaahan-perusahaan tersebut dapat diukur dari triliunan dolar yang dihasilkan. Beliau kemudian menjadi mentor berbagai klub-klub spiritual, dan tentu saja para pemimpin dan penguasa dunia. Sambil menikmati hidupnya di Indonesia, Beliau juga bertemu dengan kita (para muridnya yang tengah menghadapi kesulitan dan perlu bimbingan), dan Beliau menghibur kita. Mr Eddy pun punya sense of fashion yang amat tinggi, dengan selalu bergaya keren dan memakai parfum seperti Jo Malone, gaya hidup dan pilihan Beliau, yang amat dinikmatinya, pun menjadi inspirasi dan standard saya.
Mengenal Mr Eddy, mendengar kisah-kisahnya, dan melihatnya dalam hidup saya secara langsung merupakan suatu anugerah yang sangat besar tersendiri, sebab Beliau telah menunjukkan apa yang dapat saya raih dari hidup saya. Beliau telah menghancurkan langit-langit saya. Makasih paak.. :) Untuk informasi lebih lanjut mengenai Mr Eddy bisa dilihat di Tentang Edhaka.
-Salam rahayu,
Subscribe to:
Posts (Atom)